Ayat 101-104
Allah SWT memberitahukan bahwa Dia telah mengutus nabi Musa dengan membawa sembilan mukjizat yang jelas. Mukjizat-mukjizat itu adalah bukti yang jelas atas kebenaran kenabiannya dan apa yang dia sampaikan kepada Fir'aun. Mukjizat-mukjizat itu adalah tongkat, tangan, tahun paceklik, terbelahnya laut, banjir, belalang, kutu, katak, dan darah, yang semuanya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah, tetapi mereka menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.
Yaitu, sekalipun telah menyaksikan mukjizat-mukjizat tersebut, mereka tetap mengingkarinya. (Mereka menolak kebenaran itu dengan cara yang aniaya dan sombong, (Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya) (Surah An-Naml: 14) ternyata mukjizat-mukjizat itu tidak berhasil terhadap mereka. Maka demikian juga seandainya Kami memenuhi permintaan orang-orang yang meminta kepadamu atas hal itu. dan mereka berkata, (“Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami) (Surah Al-Isra’: 90) maka mereka tidak akan menepatinya dan tidak mau beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Sebagaimana yang dikatakan Fir'aun kepada nabi Musa setelah menyaksikan mukjizat-mukjizat ini: (Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir) Dikatakan bahwa maknanya adalah seorang penyihir. Hanya Allah yang lebih mengetahui.
Sembilan mukjizat yang telah disebukan oleh para imam ini merupakan hal yang dimaksud ayat ini yang pengertiannya sama dengan firmanNya: (Dan lemparkanlah tongkatmu!” Maka ketika (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh. ”Wahai Musa! Jangan takut! Sesungguhnya di hadapan-Ku, para rasul tidak perlu takut, (10) kecuali orang yang berlaku zalim yang kemudian mengubah (dirinya) dengan kebaikan setelah kejahatan (bertobat); maka sungguh, Aku Maha Pengampun, Maha Penyayang (11) Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan keluar menjadi putih (bersinar) tanpa cacat. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan macam mukjizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir‘aun dan kaumnya. Mereka benar-benar orang-orang yang fasik” (12)) (Surah An-Naml) Kedua ayat ini menyebutkan dua mukjizat nabi Musa, yaitu tongkat dan tangannya, sedangkan mukjizat-mukjizat lainnya disebutkan di dalam surah Al-A'raf secara rinci.
Oleh karena itu nabi Musa berkata kepada Fir'aun: (Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata) yaitu, hujjah dan dalil-dalil atas kebenaran dari apa yang aku sampaikan kepadamu (dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa) yaitu, binasa. Pendapat ini dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah. Ibnu Abbas berkata bahwa maknanya adalah terlaknat. Ibnu Abbas dan Adh-Dhahhak juga berkata bahwa kata (matsburan) adalah dikalahkan. dan penggunaan makna “binasa” menurut pendapat Mujahid dan Qatadah itu mencakup semuanya,
Firman Allah: (Kemudian (Fir'aun) hendak mengusir mereka (Musa dan para pengikutnya) dari bumi (Mesir)) yaitu mengusir mereka dari sana (Maka kami tenggelamkan dia (Fir'aun) serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya (103) dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil, "Diamlah di negeri ini") Dalam hal ini terdapat berita gembira bagi nabi Muhammad SAW bahwa beliau akan mendapatkan kemenangan atas Makkah, mengingat bahwa surah ini adalah Makkiyyah yang diturunkan sebelum Hijrah; dan memang demikianlah, karena sesungguhnya penduduk Makkah bertekad untuk mengusir Rasulullah SAW dari sana, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan sungguh, mereka hampir membuatmu (Muhammad) gelisah di negeri (Mekah) karena engkau harus keluar dari negeri itu, dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak akan tinggal (di sana), melainkan sebentar saja (76) (Yang demikian itu) merupakan ketetapan bagi para rasul Kami yang Kami utus sebelum engkau, dan tidak akan engkau dapati perubahan atas ketetapan Kami (77)) (Surah Al-Isra’). Oleh karena itu Allah menganugerahkan Makkah kepada RasulNya SAW sehingga beliau memasukinya secara paksa menurut pendapat yang paling terkenal di antara dua pendapat. Beliau mengalahkan penduduknya, kemudian membebaskan mereka karena kelembutan dan kemurahannya. Sebagaimana Allah menganugerahkan belahan bumi timur dan barat bumi kepada kaum yang tertindas dari kalangan Bani Israil, dan menganugerahkan negeri-negeri yang berada di bawah kekuasaan Fir'aun, beserta harta benda, buah-buahan, dan perbendaharaannya. Sebagaimana Allah berfirman: (demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil (59)) (Surah Asy-Syu'ara) DI sini Allah berfirman: (Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil, "Diamlah di negeri ini. Maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kalian dalam keadaan bercampur baur (dengan musuh kalian) (104)) yaitu kalian semua dan musuh kalian.
Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan Adh-Dhahhak berkata bahwa “lafifan” maknanya adalah semuanya.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.