Makna Kehidupan Dunia
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa surah Al-Kahfi adalah Makiyah, yang turun waktu Nabi masih berada di Makkah. Berilah perumpamaan kepada orang yang beriman dan orang-orang Quraisy tentang kehidupan dunia jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Agar mereka bisa membandingkan untuk apakah sebenarnya kehidupan dunia ini?
Kehidupan yang ketika hati orang-orang musyrikin terikat dengan dunia membuat mereka lalai terhadap kehidupan akhirat dan lupa untuk beribadah kepada Allah. Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa perumpamaannya adalah seperti air yang diturunkan dari langit. Maka, air tersebut bercampur dengan tumbuhan di bumi. Lalu, tumbuhan tersebut menjadi kering, hancur dan mudah tertiup oleh angin seakan-akan tidak ada nilainya sama sekali. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Perumpamaan Kehidupan Dunia
Allah mengibaratkan kehidupan dunia ini seperti air. Ada khilaf diantara para ulama tentang penafsiran ini menjadi dua pendapat.
Pendapat Pertama
Pendapat Pertama, menurut Al-Qurthubi dalam tafsirnya dengan menukil sebagian pendapat ulama mengatakan bahwa kehidupan dunia diumpakan dengan air karena beberapa sebab, diantaranya:
• Air memiliki sifat tidak tetap, begitu juga dengan dunia. Dunia tidak akan tetap. Kondisinya selalu berubah-ubah. Seperti halnya air laut yang terkadang berubah menjadi uap, lalu membentuk awan, lalu turun menjadi air hujan. Tidak hanya itu, ketika jatuh ke tanah, maka dia menjadi air tanah yang entah diambil oleh orang atau dengan segala kemungkinan lainnya. Artinya kondisinya selalu berubah-ubah.
• Air akan menghilang atau mengering. Suatu saat air akan habis dan kering. Entah akibat dari terjadinya musim kemarau atau karena digunakan untuk banyak kebutuhan manusia atau meresap ke tanah. Sama halnya dengan kehidupan dunia. Kondisi dunia dan manusia tidak pernah tetap. Dimulai dari kecil, lalu beranjak menuju masa muda, lalu tua dan kemudian meninggal dunia. Dan itulah kondisi manusia. Semuanya akan sirna, begitu juga dengan harta yang dimiliki manusia.
• Apabila seseorang menceburkan diri ke dalam air, dia pasti akan kebasahan. Artinya jika dia berinteraksi langsung dengan air, pasti akan basah. Tidaklah mungkin seseorang yang berinteraksi dengan air, akan tetapi tidak mengalami kebasahan, sangat mustahil. Maka, seperti itulah perumpamannya, ketika seseorang berinteraksi dan tenggelam dengan dunia, pasti dia akan kecipratan dan basah dengan dunianya tersebut.
• Air bermanfaat pada kadar tertentu dan apabila berlebihan, maka akan mengakibatkan suatu bencana. Seperti yang dirasakan oleh sebagian orang pada beberapa waktu yang lalu ketika terjadi banjir. Ketika air itu terlalu banyak, maka akan mendatangkan masalah. Duniapun demikian, ketika seseorang mengambilnya secukupnya, maka itu adalah sebuah kebaikan. Akan tetapi, jika berlebihan maka akan membinasakan. Karena bisa membuatnya lalai dengan akhirat dan menghabiskan waktunya untuk urusan dunianya. Bayangkan, jika dia mempunyai sepuluh rumah. Banyak sekali yang harus diurus, sehingga waktunya untuk akhirat semakin sedikit dan berkurang, karena segala waktunya habis untuk dunia. Maka, air menjadi bermanfaat jika seseorang mengambil secukupnya. Begitu juga, dunia akan menjadi bermanfaat, jika seseorang mengambilnya dengan secukupnya. Namun, jika berlebihan, maka akan membawa bencana.
Pendapat Kedua
Pendapat Kedua, merupakan pendapat mayoritas ulama. Mereka mengatakan bahwa kehidupan dunia tidak diibaratkan dengan sekedar air, akan tetapi diibaratkan dengan kondisi air yang turun ke bumi lalu menumbuhkan tetumbuhan dan akhirnya hancurlah tetumbuhan tersebut, sebagamana firman Allah,
كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ
“ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin.”
Ayat ini menjelaskan tentang kondisi tumbuhan yang hijau lalu menjadi kering dan sirna. Dimulai dari air yang turun ke bumi, lalu bercampur dengan tumbuhan yang hijau, hingga akhirnya daun tersebut mengering dan menghilang. Maksudnya perumpamaan dunia ini seperti tumbuhan yang indah lagi hijau, namun cepat berubah menjadi kering dan (kotor) tidak bernilai. Perumpamaan itu menggambarkan sebuah perubahan dari kondisi baik menjadi buruk dengan begitu cepat. Artinya, hendaknya manusia janganlah terpedaya dengan dunia ini. Karena dunia ini sangat cepat berubah seperti halnya daun yang hijau nan indah, namun tiba-tiba mengering.
Tumbuhan yang Bercampur dengan Air
Pada ayat ini juga ada dua pendapat di kalangan ahli tafsir.
Pertama, tumbuhan yang bercampur dengan air. Begitulah kenyataannya bahwa jika ada tumbuhan yang kering, lalu sering disiram dengan air, maka akan menjadi segar kembali. Artinya, air itu benar-benar mengalir kepada sel-sel tumbuhan tersebut, sehingga menjadi tumbuhan yang segar.
Kedua, tumbuhan tersebut menjadi banyak sehingga bercampur baur. Ada rerumputan yang saling silang dan pohon-pohon saling bercampur-baur. Semuanya itu dikarenakan pengaruh hujan. Diawali dari tanah yang disekitarnya tandus, lalu Allah menurunkan hujan, kemudian menumbuhkan pepohonan dan tumbuh-tumbuhan yang hijau, rimbun, saling bercampur satu dengan yang lainnya dan indah dipandang mata.
Perubahan Kehidupan Dunia
Menurut Al-Alusi dalam kitabnya Ruhul Ma’aniy menjelaskan arti kata فَ di dalam lafaz فَأَصْبَحَ. Beliau mengatakan bahwa (الفَاءُ لَيْسَتْ فَصِيْحِيَّة)(162 ). Artinya menunjukkan perubahannya yang sangat cepat. Dari daun yang hijau dan indah, lalu berubah menjadi kering dan hancur( 163). Subhanallah, perubahan ini tidaklah lama. Demikian juga dengan kehidupan dunia, maka dari itu Allah menyebutkan di dalam Alquran pada ayat yang lain,
زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ
“(sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu.” (QS. Taha: 131)
Allah mengumpamakan dunia ini dengan bunga mawar. Bunga dengan bentuk yang indah, sejuk dipandang mata, memiliki aroma yang harum dan wangi bahkan berwarna warni, ada merah, ada putih, jingga, kuning dan ungu. Namun, ketika bunga itu dipetik dari batangnya, maka tidak lama kemudian dia akan layu dan itu terjadi dengan cepat sekali. Demikianlah hakekat kehidupan dunia. Menurut kita lama, namun pada hakekatnya sangat cepat jika dibandingkan dengan alam barzakh yang mungkin lamanya hingga ribuan tahun atau padang mahsyar yang lamanya lima puluh ribu tahun atau bahkan akhirat, surga dan neraka yang abadi tidak ada penghujungnya. Karenanya, hakekat kehidupan dunia hanyalah sementara, maka dari itu janganlah kita terperdaya.
Contoh Perubahan Kehidupan Dunia
Contoh yang lain adalah seperti apa yang kita rasakan saat ini. Tanpa kita sadari, tiba-tiba kita berada pada usia 40 tahun. Yang dahulu di masa muda terlihat gagah, tiba-tiba rambut mulai memutih, mata mulai rabun, pendengaran berkurang, tangan bergetar dan bergerak sendiri tidak terkontrol, tertimpa berbagai macam penyakit.
Tiba-tiba menjadi seperti tumbuhan yang kering dan hancur tertiup angin. Demikianlah perumpamaan kehidupan dunia.
Kehidupan Dunia yang Kering dan Hancur
Dunia yang menjadi kering dan hancur memiliki dua penafsiran. Pertama, adalah harta dan kedua adalah manusia itu sendiri( 165). Seseorang yang memiliki rumah mewah, kendaraan mewah, maka suatu saat akan rusak dan sirna. Meskipun berusia ratusan tahun, maka suatu saat akan tetap hancur. Meskipun dia mempunyai istana yang kuat hingga ribuan tahun, diapun tidak akan kuat untuk tinggal di istana tersebut.
Pada suatu kesempatan, penulis pernah ke Paris dan sempat pergi ke sebuah istana. Istana ini terkenal dengan pembangunannya pada masa pemerintahan Raja Louis. Dimana ketika masa itu, dia menyuruh orang-orang untuk bekerja sampai mereka dibuat untuk kerja paksa dalam membangun istana tersebut. Istana yang sangat megah ini dibangun pada tahun 1682 hingga tahun 2019 masih tetap sangat megah. Sedangkan penghuninya sudah tidak ada lagi. Adapun sebab matinya disebutkan dalam sebuah cerita bahwa rakyatnya berkumpul untuk melakukan demonstrasi dan membunuhnya, karena selama itu mereka tersiksa akibat disuruh kerja paksa untuk membangun istana tersebut.
Istana tersebut berdiri dengan megah, namun Rajanya sudah tidak ada. Demikianlah dunia, seandainya ada suatu benda yang kita bangun dan mampu bertahan, maka kita yang tidak sanggup untuk bertahan. Atau sebaliknya, seandainya kita mampu untuk bertahan, namun bendanya yang tidak mampu untuk bertahan. Benda itu akan sirna suatu saat, bagaikan rumput yang kering dan hancur tertiup angin.