Firman Allah SWT
Makna Kata
{اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا}
{#Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.#} (Al-Kahfi, [18:46])
Makna Ayat Lain
{زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ}
{#Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.#} (Ali Imran, [3:14]), hingga akhir ayat.
Makna Ayat Lain
{اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ }
{#Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah cobaan (bagi kalian); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.#} (At-Taghabun, [64:15])
Makna Ayat Lain
Dengan kata lain, kembali kepada Allah dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada-Nya adalah lebih baik bagi kalian daripada menyibukkan diri dengan hal-hal tersebut, menghimpun dunia (harta), serta merasa khawatir yang berlebihan terhadap hal-hal tersebut. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا}
{#Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.#} (Al-Kahfi, [18:46])
Makna Istilah
Ibnu Abbas, Sa'id ibnu Jubair, serta lain-lainnya dari kalangan ulama salaf yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan {#Bāqiyātush shālihāt#} ialah salat lima waktu.
Makna Istilah
Ata ibnu Abu Rabah dan Sa'id ibnu Jubair telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan {#Bāqiyātush shālihāt#} ialah ucapan:
{سُبْحَانَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَللّٰهُ اَكْبَرُ}
{#Mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar.#}
Makna Istilah
Hal yang sama dikatakan pula oleh Amirul Mu'minin Usman ibnu Affan ketika ditanya mengenai makna al-baqiyah ini, maka ia menjawab bahwa hal itu adalah ucapan:
{لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَاللّٰهُ اَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ}
{#Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan Allah Mahabesar, dan tidak ada upaya (untuk menghindari kedurhakaan) dan tidak ada kekuatan (untuk melakukan ibadah) kecuali hanya dengan (pertolongan) Allah, Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.#}
Makna Istilah
Hal ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Haiwah, telah menceritakan kepada kami Abu Uqail, bahwa ia pernah mendengar Al-Haris (bekas budak Usman RA) mengatakan, "Pada suatu hari Usman duduk di suatu majelis, dan kami pun duduk bersamanya. Maka datanglah juru azan kepadanya (memberitahukan masuknya waktu salat), lalu ia meminta air dalam sebuah wadah -menurutku jumlah air tersebut kurang lebih satu mud banyaknya-, kemudian dipakainya untuk wudu. Sesudah itu ia berkata, "Saya pernah melihat Rasulullah SAW melakukan wudu seperti wuduku ini (yang kuperagakan kepada kalian)," lalu beliau SAW bersabda: "Barang siapa melakukan wudu seperti wuduku ini, kemudian ia berdiri dan salat Zuhur, maka diampuni baginya semua dosa yang ada, antara salat Zuhur dan salat Subuhnya. Kemudian bila ia salat Asar, maka diampuni baginya semua dosa yang ada antara salat Asar dan salat Zuhurnya. Kemudian bila ia salat Magrib, maka diampuni baginya semua dosa yang ada antara salat Magrib dan salat Asarnya. Kemudian bila ia salat Isya, maka diampuni baginya semua dosa yang ada antara salat Magrib dan salat Isyanya. Kemudian barangkali ia tidur di malam harinya, lalu bangun di pagi hari dan melakukan wudu dan salat Subuh, maka diampuni baginya semua dosa yang ada antara salat Isya dan salat Subuhnya. Semuanya itu adalah kebaikan-kebaikan yang dapat menghapuskan keburukan-keburukan (dosa-dosa)." Orang-orang bertanya, "Ini adalah kebaikan-kebaikan. Maka apakah yang dimaksud dengan {#Al-bāqiyātush shālihāt#}, hai Usman?" Usman menjawab bahwa yang dimaksud dengannya ialah kalimat:
{لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَاللّٰهُ اَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ}
{#Tidak ada Tuhan selain Allah, Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, Allah Mahabesar, tidak ada upaya (untuk menjauhkan diri dari kedurhakaan) dan tidak ada kekuatan (untuk mengerjakan ibadah) kecuali hanya dengan (pertolongan) Allah, Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.#}
Makna Istilah
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid (menyendiri).
Makna Istilah
Malik telah meriwayatkan dari Imarah ibnu Abdullah ibnu Shayyad, dari Sa'id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa {#Bāqiyātush shālihāt#} adalah kalimat:
{سُبْحٰنَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ اَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بَاللّٰهِ}
{#Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar; dan tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.#}
Makna Istilah
Muhammad ibnu Ajlan telah meriwayatkan dari Imarah, "Sa'id ibnul Musayyab pernah bertanya kepadaku tentang makna {#Bāqiyātush shālihāt#}, maka aku menjawab, "Salat dan saum." Sa'id ibnul Musayyab berkata, "Jawabanmu tidak tepat." Aku berkata, "Zakat dan haji." Sa'id ibnul Musayyab berkata, "Jawabanmu masih kurang tepat juga, tetapi sesungguhnya yang dimaksud dengannya adalah lima buah kalimat, yaitu:
{لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ اَكْبَرُ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ}
{#Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, dan tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.#}
Makna Istilah
Ibnu Juraij mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Usman ibnu Khaisam, dari Nafi' ibnu Sarjis; ia pernah menceritakan kepadanya bahwa ia bertanya kepada Ibnu Umar tentang apa yang dimaksud dengan istilah {#Bāqiyātush shālihāt#}. Maka Ibnu Umar RA menjawab:
{لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ اَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللّٰهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ}
{#Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, Mahasuci Allah, dan tidak ada daya serta tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.#}
Makna Istilah
Ibnu Juraij dan Ata ibnu Abu Rabah mengatakan pula hal yang serupa dengan itu.
Makna Istilah
Mujahid mengatakan, yang dimaksud dengan {#Bāqiyātush shālihāt#} ialah ucapan:
{سُبْحٰنَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ اَكْبَرُ}
{#Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar.#}
Makna Istilah
Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Al-Hasan dan Qatadah sehubungan dengan firman-Nya: {#tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh.#} (Al-Kahfi, [18:46]) Bahwa yang dimaksud dengannya ialah ucapan: Lā ilāha illallāh, Allāhu akbar, Alhamdulillāh, dan Subhānallāh.
Makna Istilah
Ibnu Jarir mengatakan, "Saya menjumpai di dalam kitab saya sebuah hadis dari Al-Hasan ibnus Sabbah Al-Bazzar, dari Abu Nasr At-Tammar, dari Abdul Aziz ibnu Muslim, dari Muhammad ibnu Ajlan, dari Sa'id Al-Maqbari, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
{سُبْحٰنَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ اَكْبَرُ مِنَ الْبَاقِيٰتِ الصّٰلِحٰتِ}
{#"Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar; semuanya itu adalah amalan-amalan yang kekal lagi saleh."#}
Makna Istilah
Telah menceritakan pula kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris, bahwa Darij (yaitu Abus Samah) pernah menceritakan kepadanya, dari Abul Haisam, dari Abu Sa'id, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
{اِسْتَكْثِرُوْا مِنَ الْبٰقِيٰتِ الصّٰلِحٰتِ}
{#"Perbanyaklah oleh kalian amalan-amalan yang kekal lagi saleh."#}
Makna Istilah
Ketika ditanyakan, "Apakah yang dimaksud dengannya, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Al-millah (agama)." Ditanyakan lagi, "Apakah yang dimaksud dengannya, wahai Rasulullah?" Rasulullah SAW bersabda,
{التَّكْبِيْرُ وَالتَّهْلِيْلُ وَالتَّسْبِيْحُ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ}
{#"Takbir (Allah Mahabesar), tahlil (tidak ada Tuhan selain Allah), tasbih (Mahasuci Allah), dan segala puji bagi Allah serta tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah."#}
Makna Istilah
Imam Ahmad telah meriwayatkan hadis ini melalui riwayat Darij dengan sanad yang sama.
Makna Istilah
Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abu Sakhr, bahwa Abdullah ibnu Abdur Rahman (pelayan Salim ibnu Abdullah) telah menceritakan kepadanya bahwa Salim pernah mengutusnya kepada Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi untuk suatu keperluan. Salim berpesan, "Sampaikanlah kepadanya, hendaknya dia menemuiku di pinggir kuburan ini, karena aku mempunyai suatu keperluan dengannya." Maka keduanya bertemu dan salah seorang mengucapkan salam kepada yang lainnya, kemudian Salim berkata kepadanya, "Bagaimanakah menurutmu makna {#al-bāqiyatush shālihāt#}? Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi menjawab, "Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, Mahasuci Allah, dan tidak ada daya serta tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah." Salim berkata kepada Ibnu Ka'b, "Sejak kapan engkau jadikan kalimat Lā hawla walā quwwata illā billāh ke dalam {#Al-Bāqiyātush shālihāt#}? Ibnu Ka'b menjawab, "Saya selalu menggabungkannya ke dalamnya." Salim terus menanyainya sebanyak dua atau tiga kali, tetapi Ibnu Ka'b tetap teguh dengan pendiriannya. Akhirnya Ibnu Ka'b berkata, "Kamu memprotes?" Salim menjawab, "Ya, saya memprotes, karena sesungguhnya saya pernah mendengar Abu Ayyub Al-Ansari menceritakan hadis berikut, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
{*عُرِجَ بِيْ اِلَى السَّمَاءِ فَاُرِيْتُ اِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ يَا جِبْرِيْلُ مَنْ هٰذَا مَعَكَ. فَقَالَ مُحَمَّدٌ. فَرَحَّبَ بِيْ وَسَهَّلَ ثُمَّ قَالَ مُرْ اُمَّتَكَ فَلْتُكْثِرْ مِنْ غِرَاسِ الْجَنَّةِ فَاِنَّ تُرْبَتَهَا طَيِّبَةٌ وَاَرْضَهَا وَاسِعَةٌ. فَقُلْتُ وَمَا غِرَاسُ الْجَنَّةِ. قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰ
Makna Kata
Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Najiyah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sa'd Al-Aufi, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Umar ibnul Husain, dari Yunus ibnu Nafi' Al-Jadali, dari Sa'd ibnu Junadah RA yang mengatakan, "Saya termasuk orang pertama dari kalangan penduduk Taif yang datang kepada Nabi SAW Saya berangkat menempuh jalan dataran tinggi Taif, yaitu dari As-Surrah, di pagi hari. Sampai di Mina pada waktu asar, lalu saya mendaki jalan perbukitan dan kemudian turun, lalu datang menemui Nabi SAW dan saya masuk Islam. Nabi SAW mengajari saya firman Allah SWT: {#Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Esa."#} (Al-Ikhlas: [112:1]) Maksudnya surat Al-Ikhlas, juga surat Az-Zalzalah. Nabi SAW mengajari saya kalimah-kalimah berikut: Subhānallāh, Alhamdulillāh, Lā ilāha illallāh, dan Allāhu akbar. Kemudian beliau bersabda, 'Itulah amalan-amalan yang kekal lagi saleh'."
Makna Ayat
Dengan sanad yang sama dalam hadis lain disebutkan seperti berikut:
{مَنْ قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَتَوَضَّاَ وَمَضْمَضَ فَاهُ ثُمَّ قَالَ سُبْحٰنَ اللّٰهِ مِائَةَ مَرَّةٍ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ مِائَةَ مَرَّةٍ وَاللّٰهِ اَكْبَرُ مِائَةَ مَرَّةٍ وَلَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ مِائَةَ مَرَّةٍ غُفِرَتْ ذُنُوْبُهٗ اِلَّا الدِّمَاءَ فَاِنَّهَا لَا تُبْطَلُ}
{#"Barang siapa yang bangun di waktu malam hari, lalu berwudu dan berkumur (membersihkan) mulutnya, kemudian mengucapkan Subhānallāh sebanyak seratus kali; dan Alhamdulillāh sebanyak seratus kali, Allāhu akbar sebanyak seratus kali. Lā ilāha illallāh sebanyak seratus kali, maka diampunilah dosa-dosanya kecuali yang berkaitan dengan masalah darah (dosa membunuh), karena sesungguhnya dosa membunuh itu tidak terhapuskan."#}
Pelajaran dari Ayat
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: {#tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh#}. (Al-Kahfi, [18:46]) Bahwa yang dimaksud dengannya ialah zikrullah (zikir kepada Allah), yaitu ucapan "Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, Mahasuci Allah, tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, istigfar, dan salawat untuk Rasulullah, serta saum (puasa), haji, sedekah, memerdekakan budak, jihad, silaturahmi, dan semua amal kebaikan. Semua itu adalah amalan-amalan yang kekal lagi saleh, yaitu amalan-amalan yang mengekalkan pelakunya di dalam surga selama masih ada bumi dan langit (yakni untuk selama-lamanya).
Makna Kata Lain
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan {#Bāqiyātush shālihāt#} ialah kalam yang baik.
Pendapat Lain
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, yang dimaksud dengan {#Bāqiyātush shālihāt#} ialah seluruh amal-amal saleh. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.