Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Berkata Demikian Bermaksud
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata demikian bermaksud bahwa beliau tidak ingin mengganggu ayahnya. Para ulama menyebutkan bahwa hal ini sesuai dengan sifat-sifat hamba-hamba Allah ﷻ yang disebutkan firman-Nya,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam,”.” (QS. Al-Furqan: 63)(108 )
Para ulama mengatakan bahwa ayat ini merupakan dalil bahwa apabila seseorang sudah mendakwahi orang lain, lalu dakwah tersebut tidak diterima atau bahkan malah dicaci maki, maka dibolehkan baginya untuk meninggalkan orang tersebut. Sebagaimana nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang meninggalkan ayahnya(109 ). Apalagi, ayah nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengancam kepada beliau. Maka, hal itu menjadi perkara yang sangat yang menyakitkan, karena nabi Ibrahim ‘alaihissalam diusir oleh ayahnya sendiri. Bahkan diancam untuk dibunuh padahal beliau berasal dari darah daging ayahnya sendiri.
سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا
“Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam terus memohonkan ampunan untuk ayahnya, saking sayangnya kepada ayahnya. Para ulama menyebutkan bahwa nabi Ibrahim ‘alaihissalam memohonkan ampunan untuk ayahnya dalam waktu yang sangat lama, sejak beliau berhijrah dari Syam menuju Makkah dan membangun ka’bah dan setelah kelahiran putera beliau, nabi Ishaq dan Isma’il ‘alaihissalam( 110). Namun, Allah ﷻ menegurnya,
وَما كانَ اسْتِغْفارُ إِبْراهِيمَ لِأَبِيهِ إِلاَّ عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَها إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْراهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
“Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah: 114)
Ujian yang Menyedihkan
Ini menunjukkan betapa kasih sayangnya nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada ayahnya. Padahal, beliau telah meninggalkan ayahnya, hingga beliau beristri dan memiliki anak dan membangun ka’bah, beliau tetap memintakan ampunan untuk ayahnya. Beliau diuji dengan hal yang sangat menyedihkan. Ayahnya berbuat kesyirikan, sedangkan beliau dilarang memohonkan ampunan untuk ayahnya. Maka dari itu, ketika Nabi ﷺ memohonkan ampunan untuk paman beliau, Abu Thalib, karena termasuk paman yang beliau cintai. Bahkan, bisa dikatakan bahwa Abu Thalib adalah ayah angkat Nabi ﷺ, karena dia begitu mencintai Nabi ﷺ seperti mencintai anaknya sendiri dan rela mati untuk membelanya, sedangkan Nabi ﷺ adalah putera Abdullah, saudara kandung Abu Thalib. Ketika Abu Thalib hendak meninggal dunia, Nabi ﷺ mendakwahinya agar bersedia masuk Islam. Namun, dihalangi oleh Abu Jahl dan orang-orang kafir Quraisy agar enggan memeluk ajakan Nabi ﷺ. Akhirnya, dia enggan masuk Islam, hingga membuat Nabi ﷺ sedih dan bersabda,
أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ
“Aku akan memohonkan ampunan bagi engkau selama aku tidak dilarang.”(111 )
Setelah itu Allah ﷻ menurunkan firman-Nya,
مَا كانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كانُوا أُولِي قُرْبى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحابُ الْجَحِيمِ
“Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)
Pada ayat berikutnya Allah ﷻ juga menyebutkan,
وَما كانَ اسْتِغْفارُ إِبْراهِيمَ لِأَبِيهِ إِلاَّ عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَها إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْراهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
“Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah: 114)
Nabi-Nabi yang Dijadikan Ujian
Tidak hanya nabi Ibrahim ‘alaihissalam saja yang diuji dengan ujian yang menyedihkan ini. Para nabi pun diuji dengan ujian yang berat semisalnya, seperti nabi Nuh ‘alaihissalam yang diuji dengan anak dan istrinya yang kafir, nabi Luth ‘alaihissalam diuji dengan istrinya yang kafir, nabi Ibrahim diuji dengan ayahnya yang kafir, nabi Muhammad ﷺ diuji dengan pamannya yang kafir. Demikian juga ketika Nabi ﷺ hendak memohonkan ampunan kepada ibu beliau ﷺ, maka Allah ﷻ tidak mengijinkannya, lalu Nabi ﷺ menangis dan membuat orang yang berada di sekitar beliau menangis.(112 )
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sudah berjanji untuk memohonkan ampunan untuk ayahnya, sedangkan beliau adalah seorang yang صِدِّيق ‘menepati janji’. Bertahun-tahun nabi Ibrahim ‘alaihissalam memohonkan ampunan bagi ayahnya.
إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا
“Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berharap agar Allah ﷻ akan mengabulkan doanya tatkala beliau memohonkan ampunan bagi ayahnya. Maka, nabi Ibrahim ‘alaihissalam bertawasul dengan sifat-sifat Allah ﷻ, sebagaimana disebutkan di dalam ayat ini. Doa yang panjatkan ini merupakan bentuk husnudzan yang sangat luar biasa dari nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Allah ﷻ, “Sesungguhnya Dia sangat baik dan perhatian kepadaku”(113 ). Akan tetapi, ternyata Allah ﷻ tidak mengabulkannya.