Makna Kata
Pada ayat sebelumnya Allah ﷻ menyebutkan Nabi Ishaq ‘alaihissalam dan Yaqub ‘alaihissalam. Lalu apa alasan penyebutan Nabi Musa setelah mereka berdua? Para ulama menyebutkan alasannya karena Nabi Musa ‘alaihissalam adalah nabi terbaik dari keturunan Ishaq dan Yaqub.
Kita ketahui bahwasanya nabi-nabi dari keturunan Nabi Yaqub ‘alaihissalam sangat banyak yang biasa disebut dengan Anbiya (nabi-nabi) Bani Israil, akan tetapi dari seluruh nabi-nabi tersebut yang paling terbaik adalah Nabi Musa ‘alaihissalam. Hal ini dikarenakan Nabi Musa termasuk dari Ulul Azmi dari para rasul. Ulul Azmi dari para rasul ada 5 yaitu: Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa , Nabi Isa, dan Nabi Muhammad ‘alaihimussalam. Kelima orang ini ditambah dengan Nabi Adam ‘alaihissalam yang kelak di Padang Mahsyar para manusia meminta syafaat kepada mereka.
Oleh karenanya Allah ﷻ mengingatkan bahwasanya di antara nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada Nabu Ibrahim, Yaqub, dan Ishaq adalah seorang nabi yang sangat mulia bernama Musa.
Makna Ayat
Kemudian firman-Nya,
إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا
“Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih”
Terdapat dua qiraah/bacaan yaitu: مُخْلَصًا dan مُخْلِصًا. Adapun مُخْلِصًا artinya orang yang ikhlas dan مُخْلَصًا artinya orang yang terpilih. Dua qiraah ini semuanya benar.
Qiraah yang pertama yaitu مُخْلِصًا artinya Nabi Musa ‘alaihissalam adalah orang yang ikhlas dalam perkataannya, perbuatannya, hati, dan ikhlas dalam segala hal terutama dalam berdakwah. Hal ini dikarenakan Nabi Musa ‘alaihissalam ketika berdakwah ia berhadapan dengan Firaun yang dia adalah orang yang paling sombong, angkuh, dan paling kejam bahkan dia mengaku sebagai tuhan. Jika Nabi Musa tidak ikhlas maka akan sulit bagi Nabi Musa berhadapan dengan orang seperti ini.
Dalam qiraah yang lain dibaca dengan مُخْلَصًا yang artinya orang yang terpilih(121 ), ini sebagaimana firman Allah ﷻ,
قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالَاتِي وَبِكَلَامِي فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“Allah ﷻ berfirman: "Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur".” (QS. Al-A’raf: 144)
Begitu juga firman-Nya,
وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي
“dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.” (QS. Thaha: 41)
Syaikh As-Sa’di mengatakan bahwa 2 qiraah ini saling melazimkan(122 ). Hal ini dikarenakan orang yang ikhlas maka dialah orang yang akan dipilih oleh Allah ﷻ. Karena orang yang ikhlas adalah orang yang spesial di antara yang lainnya. Jika yang lain beramal karena riya, ingin dipuji, ingin dihormati, atau ingin diakui maka orang yang ikhlas tidak menginginkan itu semua. Dia melakukan semua tindakannya baik perkataan maupun perbuatannya karena Allah ﷻ, sehingga dia menjadi orang yang spesial di antara yang lainnya. Karena dia adalah orang yang ikhlas di antara yang lainnya maka akhirnya Allah ﷻ memilihnya. Inilah sebab mengapa orang yang ikhlas melazimkan dia adalah orang yang terpilih. Begitu juga orang yang terpilih melazimkan dia harus orang yang ikhlas. Jika Allah ﷻ telah memilih seseorang maka tentunya dia akan menjadi orang yang ikhlas. Ini adalah 2 hal yang saling melazimkan.
Pelajaran dari Ayat
Oleh karenanya hendaknya seseorang berusaha untuk ikhlas dalam segala perkataan dan perbuatannya. Ini adalah nasehat untuk diri penulis secara pribadi juga kepada para pembaca. Hendaknya seseorang berusaha untuk ikhlas, ketika dia menulis status, menulis sebuah komentar, mengirimkan tulisan kepada temannya, dia berdakwah, pergi ke rumah orang tuanya untuk berbakti hendaknya ia ikhlas. Setiap dalam gerak-geriknya hendaknya ia berpikir bahwa Allah ﷻ sedang melihat dirinya, memikirkan bagaimana penilaian Allah ﷻ terhadap dirinya, memikirkan bagaimana hatinya apakah ikhlas atau tidak.
Oleh karenanya disebutkan dari sebagian ulama salaf beliau tidak langsung melayat janazah hingga hening sejenak untuk mengikhlashkan niat. Hal ini karena dalam melayat jenazah bisa jadi seseorang ikhlas dam bisa jadi tidak ikhlas seperti dia melayat karena merasa tidak enak kepada orang lain jika tidak hadir.
وَقِيلَ لِنَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ: أَلَا تَشْهَدُ الْجَنَازَةَ؟ قَالَ: كَمَا أَنْتَ حَتَّى أَنْوِيَ، قَالَ فَفَكَّرَ هُنَيَّةً، ثُمَّ قَالَ: امْضِ
“Dikatakan kepada Nafi’ bin Jubair, “Tidakah engkau menghadiri (melayat) janazah?”. Beliau berkata, “Tetap di posisimu hingga aku berniat”. Lalu beliaupun befikir sejenak, kemudian beliau berkata, “Ayo berangkat” (123 )
Artinya hingga ia mengikhlaskan niatnya terlebih dahulu baru kemudian dia jalan. Perbuatan seperti ini membutuhkan waktu 1 atau 2 detik namun ini memberikan pengaruh yang sangat besar. Jika Anda ingin menjadi orang yang Allah ﷻ pilih di dunia dan akhirat maka jadilah orang yang ikhlas. Inilah sifat Nabi Musa ‘alaihissalam yang senantiasa ikhlas karena dalam ayat ini Allah ﷻ membawakannya kata مُخْلِصًا dengan bentuk isim fa’il untuk menunjukkan kesinambungan.
Perbedaan Nabi dan Rasul
Kemudian firman-Nya,
وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا
“dan seorang rasul dan nabi.”
Terdapat khilaf di kalangan ulama tentang perbedaan nabi dan rasul:
Pertama: rasul diperintahkan untuk berdakwah adapun nabi tidak diperintahkan untuk berdakwah(124 ). Namun pendapat ini dikritiki karena jangankan nabi, para ulama saja mereka berdakwah maka sudah tentu para nabi berdakwah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi ﷺ,
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” ( 125)
Juga Allah ﷻ melarang seseorang untuk menyimpan ilmu dan memerintahkan untuk menyebarkan ilmu tersebut. Penulis kurang setuju dengan pendapat ini karena para ulama saja diperintahkan untuk berdakwah maka terlebih lagi para nabi.
Kedua: rasul membawa syariat yang baru sedangkan nabi membawa syariat sebelumnya(126 ). Penulis juga kurang setuju dengan pendapat ini karena Nabi Ismail yang disifati sebagai seorang rasul akan tetapi beliau membawa syariat ayahnya yaitu Nabi Ibrahim.
Ketiga: rasul diutus kepada kaum yang menentang dan menyelisihinya seperti Nabi Musa ‘alaihissalam yang diutus kepada Firaun yang menyelisihinya, Nabi Ismail yang diutus kepada suku Jurhum yang menyelisihinya dan tidak bertauhid kepada Allah ﷻ. Adapun nabi tidak demikian, jadi nabi seperti ulama yang diutus kepada kaumnya untuk memperbaiki mereka. Ini adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ta’ala dan ini adalah pendapat yang kuat. ( 127)
Keempat: Rasul maksudnya hubungan antara nabi dengan umatnya maksudnya risalah yang Allah ﷻ kirim kepada nabi untuk disampaikan kepada umatnya. Sehingga nabi tersebut disebut dengan rasul Allah ﷻ atau utusan Allah ﷻ. Adapun nabi adalah hubungan antara dirinya dengan Allah ﷻ. Karenanya Nabi Muhammad ﷺ diangkat menjadi nabi dengan turunnya awal surah Al-‘Alaq dan diutus menjadi seorang rasul ketika diturunkan wahyu surah Al-Muddattsir. Syaikh As-Sa’di condong kepada pendapat ini. Wallahu a’lam bis showab. (128 )
Inilah beberapa pendapat di kalangan para ulama tentang perbedaan antara nabi dan rasul dan ada beberapa pendapat yang lain. Intinya hal ini dibahas karena ketika Allah ﷻ berfirman,
وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا
“dan seorang rasul dan nabi.”
Yaitu Allah ﷻ menyifati Nabi Musa sebagai seorang rasul dan nabi, maka jika rasul dan nabi adalah sama maka tidak perlu keduanya digandengkan dalam 1 konteks. Ini menunjukkan bahwa nabi dan rasul adalah suatu yang berbeda. Ini juga kesepakatan para ulama bahwasanya kedudukan rasul lebih tinggi daripada nabi, baru kemudian di bawahnya adalah kedudukan wali, dan yang lebih tinggi adalah Ulul Azmi dari para rasul. Jadi jika kita urutkan dari urutan yang tertinggi maka urutannya adalah:
- Ulul ‘Azmi. Yaitu: Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa , Nabi Isa, dan Nabi Muhammad ‘alaihimussalam.
- Para rasul
- Para nabi
- Shiddiqun
- Syuhada’
- Sholihun. Shiddiqun, Syuhada’, dan Sholihun adalah wali-wali Allah ﷻ.
Intinya nabi berbeda dengan rasul. Kedudukan rasul lebih tinggi dari pada nabi. Seorang rasul sudah pasti dia nabi sedangkan tidak mesti seorang nabi adalah rasul.