Makna kata
جَنَّاتِ pada ayat ini berbentuk jamak muannats salim yang bermakna surga-surga, sedangkan الجَنَّةَ pada ayat sebelumnya berbentuk mufrod. Yang bermakna surga. Padahal جَنَّاتِ di sini merupakan badal (pengganti) dari الجَنَّةَ pada ayat sebelumnya. جَنَّاتِ sebagai badal, dan الجَنَّةَ sebagai mubdal, yang berarti keduanya adalah satu tempat yang sama yaitu surga.
Makna ayat
Allah ﷻ berfirman:
وَعَدَ الرَّحْمَنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ
“Tuhan Yang Maha Pemurah telah janjikan kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun (surga itu) tidak nampak”
Pada ayat ini Allah ﷻ menyebutkan diriNya dengan الرَّحْمَنُ. Allah ﷻ ingin menjelaskan bahwa diriNya adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bahkan kepada hamba-hambanya yang pernah melakukan kemaksiatan, Allah ﷻ tetap memberi kasih sayangNya kepada mereka dengan menjanjikan kepada mereka surga yang ghoib.
Pelajaran dari ayat
Apakah yang dimaksud dengan الْغَيْبِ pada ayat ini? Para ulama menjelaskan makna الْغَيْبِ disini adalah tidak nampak. Pada ayat ini الْغَيْبِ merupakan haal dari جَنَّاتِ. Berdasarkan ini, maka pengertiannya adalah Allah ﷻ menjanjikan kepada mereka surga yang belum pernah mereka saksikan dan lihat.
Pelajaran dari ayat
Inilah di antara keutamaan orang-orang yang beriman. Ia meyakini apa yang dijanjikan oleh Allah ﷻ baginya, walaupun janji tersebut tidak nampak atau terlihat. Apa saja yang Allah kabarkan kepadanya tentang berbagai macam isi surga, ia meyakininya. Jika saja Allah tampakkan nikmat-nikmat di surga kepada seluruh manusia, mungkin seluruhnya akan sadar dan beriman kepada Allah ﷻ. Tapi inilah takdir Allah ﷻ, Allah sengaja tidak menampakkan surga bagi manusia, agar menjadi pembeda siapa yang beriman dan siapa yang tidak beriman.
Pelajaran dari ayat
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا
“Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati”
مَأْتِيًّا maknanya adalah akan didatangi. Allah mengatakan مَأْتِيًّا untuk menjelaskan bahwa janji-janjiNya pasti ditepati. Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi di antara manusia. Terkadang seseorang menjanjikan sesuatu yang tidak terlihat, bahkan bisa jadi menjanjikan sesuatu yang pada asalnya memang belum ada. Maka janji seperti ini memiliki beberapa kemungkinan, bisa jadi janji tersebut ditepati dan bisa jadi tidak ditepati. Ada kemungkinan juga bahwa janji tersebut pada asalnya adalah suatu kebohongan. Oleh karenanya pada ayat ini Allah ﷻ hilangkan kemungkinan-kemungkinan tersebut pada janjiNya, Allah ﷻ tegaskan bahwasanya Allah tidak pernah mengingkari janji, إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا “Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan didatangi”.
Pelajaran dari ayat
Allah ﷻ mengatakan bahwasanya sesungguhnya janjinya مَأْتِيًّا “pasti akan didatangi”. Disini Allah ﷻ memilih kata مَأْتِيًّا, yang kata tersebut adalah isim maf’ul (yang menunjukan sebagai objek, yaitu didatangi). Para ulama menjelaskan ini menunjukkan harusnya ada usaha dan upaya. Seseorang yang berharap janji tersebut yaitu surga, ia harus berusaha untuk mendatangi janji tersebut, sebab surga itu harus didatangi.
Pelajaran dari ayat
Bagaimana cara mendatangi surga? Yaitu dengan beramal shaleh, dengan meninggalkan syahwat, Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat”
Hal ini menunjukkan bahwa untuk menggapai janji Allah ﷻ yaitu surga, perlu adanya perjuangan serius.
Pelajaran dari ayat
Setelah itu Allah ﷻ menyebutkan tentang sifat-sifat surga,
Pelajaran dari ayat
Inilah di antara keutamaan orang-orang yang beriman. Ia meyakini apa yang dijanjikan oleh Allah ﷻ baginya, walaupun janji tersebut tidak nampak atau terlihat. Apa saja yang Allah kabarkan kepadanya tentang berbagai macam isi surga, ia meyakininya. Jika saja Allah tampakkan nikmat-nikmat di surga kepada seluruh manusia, mungkin seluruhnya akan sadar dan beriman kepada Allah ﷻ. Tapi inilah takdir Allah ﷻ, Allah sengaja tidak menampakkan surga bagi manusia, agar menjadi pembeda siapa yang beriman dan siapa yang tidak beriman.
Pelajaran dari ayat
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا
“Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati”
مَأْتِيًّا maknanya adalah akan didatangi. Allah mengatakan مَأْتِيًّا untuk menjelaskan bahwa janji-janjiNya pasti ditepati. Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi di antara manusia. Terkadang seseorang menjanjikan sesuatu yang tidak terlihat, bahkan bisa jadi menjanjikan sesuatu yang pada asalnya memang belum ada. Maka janji seperti ini memiliki beberapa kemungkinan, bisa jadi janji tersebut ditepati dan bisa jadi tidak ditepati. Ada kemungkinan juga bahwa janji tersebut pada asalnya adalah suatu kebohongan. Oleh karenanya pada ayat ini Allah ﷻ hilangkan kemungkinan-kemungkinan tersebut pada janjiNya, Allah ﷻ tegaskan bahwasanya Allah tidak pernah mengingkari janji, إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا “Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan didatangi”.
Pelajaran dari ayat
Allah ﷻ mengatakan bahwasanya sesungguhnya janjinya مَأْتِيًّا “pasti akan didatangi”. Disini Allah ﷻ memilih kata مَأْتِيًّا, yang kata tersebut adalah isim maf’ul (yang menunjukan sebagai objek, yaitu didatangi). Para ulama menjelaskan ini menunjukkan harusnya ada usaha dan upaya. Seseorang yang berharap janji tersebut yaitu surga, ia harus berusaha untuk mendatangi janji tersebut, sebab surga itu harus didatangi.
Pelajaran dari ayat
Bagaimana cara mendatangi surga? Yaitu dengan beramal shaleh, dengan meninggalkan syahwat, Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat”
Hal ini menunjukkan bahwa untuk menggapai janji Allah ﷻ yaitu surga, perlu adanya perjuangan serius.
Pelajaran dari ayat
Setelah itu Allah ﷻ menyebutkan tentang sifat-sifat surga,
Pelajaran dari ayat
Inilah di antara keutamaan orang-orang yang beriman. Ia meyakini apa yang dijanjikan oleh Allah ﷻ baginya, walaupun janji tersebut tidak nampak atau terlihat. Apa saja yang Allah kabarkan kepadanya tentang berbagai macam isi surga, ia meyakininya. Jika saja Allah tampakkan nikmat-nikmat di surga kepada seluruh manusia, mungkin seluruhnya akan sadar dan beriman kepada Allah ﷻ. Tapi inilah takdir Allah ﷻ, Allah sengaja tidak menampakkan surga bagi manusia, agar menjadi pembeda siapa yang beriman dan siapa yang tidak beriman.
Pelajaran dari ayat
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا
“Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati”
مَأْتِيًّا maknanya adalah akan didatangi. Allah mengatakan مَأْتِيًّا untuk menjelaskan bahwa janji-janjiNya pasti ditepati. Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi di antara manusia. Terkadang seseorang menjanjikan sesuatu yang tidak terlihat, bahkan bisa jadi menjanjikan sesuatu yang pada asalnya memang belum ada. Maka janji seperti ini memiliki beberapa kemungkinan, bisa jadi janji tersebut ditepati dan bisa jadi tidak ditepati. Ada kemungkinan juga bahwa janji tersebut pada asalnya adalah suatu kebohongan. Oleh karenanya pada ayat ini Allah ﷻ hilangkan kemungkinan-kemungkinan tersebut pada janjiNya, Allah ﷻ tegaskan bahwasanya Allah tidak pernah mengingkari janji, إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا “Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan didatangi”.
Pelajaran dari ayat
Allah ﷻ mengatakan bahwasanya sesungguhnya janjinya مَأْتِيًّا “pasti akan didatangi”. Disini Allah ﷻ memilih kata مَأْتِيًّا, yang kata tersebut adalah isim maf’ul (yang menunjukan sebagai objek, yaitu didatangi). Para ulama menjelaskan ini menunjukkan harusnya ada usaha dan upaya. Seseorang yang berharap janji tersebut yaitu surga, ia harus berusaha untuk mendatangi janji tersebut, sebab surga itu harus didatangi.
Pelajaran dari ayat
Bagaimana cara mendatangi surga? Yaitu dengan beramal shaleh, dengan meninggalkan syahwat, Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat”
Hal ini menunjukkan bahwa untuk menggapai janji Allah ﷻ yaitu surga, perlu adanya perjuangan serius.
Pelajaran dari ayat
Setelah itu Allah ﷻ menyebutkan tentang sifat-sifat surga,
Pelajaran dari ayat
Inilah di antara keutamaan orang-orang yang beriman. Ia meyakini apa yang dijanjikan oleh Allah ﷻ baginya, walaupun janji tersebut tidak nampak atau terlihat. Apa saja yang Allah kabarkan kepadanya tentang berbagai macam isi surga, ia meyakininya. Jika saja Allah tampakkan nikmat-nikmat di surga kepada seluruh manusia, mungkin seluruhnya akan sadar dan beriman kepada Allah ﷻ. Tapi inilah takdir Allah ﷻ, Allah sengaja tidak menampakkan surga bagi manusia, agar menjadi pembeda siapa yang beriman dan siapa yang tidak beriman.
Pelajaran dari ayat
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا
“Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati”
مَأْتِيًّا maknanya adalah akan didatangi. Allah mengatakan مَأْتِيًّا untuk menjelaskan bahwa janji-janjiNya pasti ditepati. Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi di antara manusia. Terkadang seseorang menjanjikan sesuatu yang tidak terlihat, bahkan bisa jadi menjanjikan sesuatu yang pada asalnya memang belum ada. Maka janji seperti ini memiliki beberapa kemungkinan, bisa jadi janji tersebut ditepati dan bisa jadi tidak ditepati. Ada kemungkinan juga bahwa janji tersebut pada asalnya adalah suatu kebohongan. Oleh karenanya pada ayat ini Allah ﷻ hilangkan kemungkinan-kemungkinan tersebut pada janjiNya, Allah ﷻ tegaskan bahwasanya Allah tidak pernah mengingkari janji, إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا “Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan didatangi”.
Pelajaran dari ayat
Allah ﷻ mengatakan bahwasanya sesungguhnya janjinya مَأْتِيًّا “pasti akan didatangi”. Disini Allah ﷻ memilih kata مَأْتِيًّا, yang kata tersebut adalah isim maf’ul (yang menunjukan sebagai objek, yaitu didatangi). Para ulama menjelaskan ini menunjukkan harusnya ada usaha dan upaya. Seseorang yang berharap janji tersebut yaitu surga, ia harus berusaha untuk mendatangi janji tersebut, sebab surga itu harus didatangi.
Pelajaran dari ayat
Bagaimana cara mendatangi surga? Yaitu dengan beramal shaleh, dengan meninggalkan syahwat, Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat”
Hal ini menunjukkan bahwa untuk menggapai janji Allah ﷻ yaitu surga, perlu adanya perjuangan serius.
Pelajaran dari ayat
Setelah itu Allah ﷻ menyebutkan tentang sifat-sifat surga,
Pelajaran dari ayat
Inilah di antara keutamaan orang-orang yang beriman. Ia meyakini apa yang dijanjikan oleh Allah ﷻ baginya, walaupun janji tersebut tidak nampak atau terlihat. Apa saja yang Allah kabarkan kepadanya tentang berbagai macam isi surga, ia meyakininya. Jika saja Allah tampakkan nikmat-nikmat di surga kepada seluruh manusia, mungkin seluruhnya akan sadar dan beriman kepada Allah ﷻ. Tapi inilah takdir Allah ﷻ, Allah sengaja tidak menampakkan surga bagi manusia, agar menjadi pembeda siapa yang beriman dan siapa yang tidak beriman.
Pelajaran dari ayat
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا
“Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati”
مَأْتِيًّا maknanya adalah akan didatangi. Allah mengatakan مَأْتِيًّا untuk menjelaskan bahwa janji-janjiNya pasti ditepati. Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi di antara manusia. Terkadang seseorang menjanjikan sesuatu yang tidak terlihat, bahkan bisa jadi menjanjikan sesuatu yang pada asalnya memang belum ada. Maka janji seperti ini memiliki beberapa kemungkinan, bisa jadi janji tersebut ditepati dan bisa jadi tidak ditepati. Ada kemungkinan juga bahwa janji tersebut pada asalnya adalah suatu kebohongan. Oleh karenanya pada ayat ini Allah ﷻ hilangkan kemungkinan-kemungkinan tersebut pada janjiNya, Allah ﷻ tegaskan bahwasanya Allah tidak pernah mengingkari janji, إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا “Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan didatangi”.
Pelajaran dari ayat
Allah ﷻ mengatakan bahwasanya sesungguhnya janjinya مَأْتِيًّا “pasti akan didatangi”. Disini Allah ﷻ memilih kata مَأْتِيًّا, yang kata tersebut adalah isim maf’ul (yang menunjukan sebagai objek, yaitu didatangi). Para