Makna Ayat
Surat Maryam ayat 77: Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Katsir yang sampai kepada Khabbab, ia berkata, “Aku seorang tukang besi di Mekah, lalu aku membuatkan pedang untuk Al ‘Ashiy bin Wa’il As Sahmiy, kemudian aku datang untuk menagih hutangnya. Al ‘Ashiy berkata, “Aku tidak akan memberimu (bayarannya) sampai kamu kafir kepada Muhammad.” Aku menjawab, “Aku tidak akan kafir kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sampai Allah mewafatkan kamu, lalu menghidupkan kamu.” Ia berkata, “Apabila Allah mewafatkan aku kemudian membangkitkanku, maka aku akan memiliki harta dan anak (sehingga aku akan membayar hutangku).” Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan ayat, “Lalu apakah engkau telah melihat orang yang mengingkari ayat-ayat Kami dan dia mengatakan, "Pasti aku akan diberi harta dan anak.-- Adakah dia melihat yang gaib atau dia telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih?” Imam Bukhari juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Umar bin Hafsh yang sampai kepada Khabbab, di sana disebutkan bahwa Al ‘Ashiy bin Wa’il berkata, “Apakah aku akan mati lalu dibangkitkan?” Aku (Khabbab) berkata, “Ya.” Khabbab berkata, “Kalau begitu, di sana aku akan memiliki harta dan anak, lalu aku akan membayar hutangmu.” Maka Allah Ta’ala menurunnkan ayat, “Lalu apakah engkau telah melihat orang yang mengingkari ayat-ayat Kami dan dia mengatakan, "Pasti aku akan diberi harta dan anak.”
Makna Kata
Yakni termasuk orang yang bahagia atau masuk surga. Sungguh aneh sekali keadaan orang kafir, sudah di dunianya mengingkari ayat-ayat Allah, namun menyangka bahwa dirinya akan diberikan kesenangan oleh-Nya. Kalau sangkaan ini muncul dari orang yang beriman dan taat kepada Allah, maka masalahnya ringan. Tetapi ternyata sangkaan ini muncul dari orang yang kafir.
Pelajaran dari Ayat
Ayat ini meskipun turun berkenaan dengan orang kafir tertentu, tetapi sesungguhnya mengena pula kepada setiap orang kafir yang menyangka bahwa dia berada di atas kebenaran, dan bahwa setelah mati dia akan mendapatkan kebahagiaan. Allah membantah sangkaan mereka dengan firman-Nya pada ayat selanjutnya.