Makna Ayat
Dalam ayat ini Allah ﷻ memperkenalkan dirinya, karena Dia telah mengenal Nabi Musa adapun Nabi Musa belum mengenal Allah ﷻ.
terdapat tiga pendapat tentang firman-Nya” dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”:
Pertama
“dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” karena zikir adalah ibadah yang sangat agung dan ibadah yang sangat disenangi oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ menyukai hambanya berzikir kepada Allah ﷻ maka Allah ﷻ memerintahkan Nabi Musa untuk salat untuk mengingat-Nya.
Kedua
لِذِكْرِي “untuk ingatan-Ku” maksudnya dirikanlah salat agar aku mengingatmu secara khusus. Jadi jika anda ingin diingatkan Allah ﷻ dan diperhatikan oleh Allah ﷻ secara khusus maka dirikanlah shalat,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Allah ﷻ mengetahui dan mengingat semua hamba-Nya dan tidak ada yang dilupakan oleh Allah ﷻ. Akan tetapi ada pengingatan khusus yaitu untuk orang-orang yang menegakkan shalat. Seseorang akan semakin dikenal oleh Allah ﷻ ketika ia semakin rajin mengerjakan shalat
Ketiga
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي “Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” maksudnya adalah kapanpun engkau lupa dari salat maka begitu engkau mengingatnya maka segeralah untuk melaksanakan salat(24 ). Oleh karenanya dalam hadis Nabi Salam bersabda:
مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ {وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي}
“barang siapa yang lupa dari shalat, maka segeralah dia shalat ketika dia ingat. Dan tidak ada kaffaroh baginya “dirikanlah shalat untuk mengingatku.” (25 )
Jika seseorang ketiduran misalnya bangun jam 9 pagi, maka begitu dia terjaga hendaknya ia salat subuh meskipun pada jam 9 pagi. Atau ketika seseorang lupa untuk salat dzuhur dan baru mengingatnya ketika akan memasuki waktu maghrib maka hendaknya ia segera salat dzuhur meskipun di waktu terlarang. Jadi kalau orang yang lupa terhadap suatu shalat maka kapanpun dia ingat maka ia kerjakan.
Faidah Ayat
Di antara faedah dari ayat ini yang berkaitan dengan akidah Ahlussunnah Wal Jamaah bahwasanya Ahlussunnah Wal Jamaah meyakini Allah ﷻ Maha berbicara. Allah ﷻ berbicara dengan suara yang didengar, berbicara dengan bahasa apa saja yang Allah ﷻ kehendaki, Allah ﷻ berbicara dengan topik apa saja yang Allah ﷻ kehendaki, dan Allah ﷻ berbicara dengan siapa saja yang Allah ﷻ kehendaki. Oleh karenanya Allah ﷻ disebut dengan Maha Berbicara. Ini adalah akidah Ahlu Sunnah wal Jamaah bahwasanya Allah ﷻ berbicara dengan Nabi Musa, berbicara dengan Nabi Muhammad ﷺ. Allah ﷻ disebut Maha berbicara maksudnya Allah ﷻ berbicara dengan suara yang didengar, dengan huruf-huruf, dengan bahasa yang Allah ﷻ kehendaki, dengan topik apa yang Allah ﷻ kehendaki, kapanpun Allah ﷻ ingin berbicara maka terserah Allah ﷻ, dan kepada siapapun ingin berbicara maka ini juga terserah Allah ﷻ. Hal inilah yang tidak bisa dipikirkan oleh ahlul bid’ah seperti Asya’iroh yang meyakini bahwa Allah ﷻ berbicara tanpa suara dan tanpa huruf akan tetapi dia berbicara dengan bahasa jiwa yang tidak ada bahasanya. Karena menurut mereka Allah ﷻ sifatnya jamid/statis yang tidak pernah berubah dari azali sampai sekarang, Allah ﷻ tidak boleh mengalami perubahan. Mereka mempunyai keyakinan yang mereka ambil dari Aris toteles dan Plato bahwasanya harus statis sejak zaman Azali tidak boleh mengalami perubahan sama sekali. Diantara bentuk syarat statis tersebut adalah Allah ﷻ tidak boleh berbicara dengan suara, karena seandainya Allah ﷻ berbicara dengan suara maka ini menunjukkan ada sesuatu yang baru didengar. Ini tidak statis menurut mereka. Mereka terjebak dengan pemahaman falasifah/ahli filsafat akhirnya ini menyebabkan mereka tidak menerima ayat ini bahwasanya Allah ﷻ berbicara Nabi Musa dengan sesuatu yang didengar akan tetapi menurut mereka Allah ﷻ bicara dengan bahasa jiwa. Jika bahasa jiwa tersebut di ungkapkan oleh Muhammad dengan bahasa Arab maka namanya Al-Quran. Jadi keyakinan mereka bahwa Al-Quran ini bukan kalam Allah ﷻ akan tetapi menurut mereka Al-Quran adalah ungkapan dari bahasa jiwa Allah ﷻ. Contoh sederhana untuk memudahkan tentang pemahaman mereka misalnya ada orang bisu yang tidak bisa berbicara, ketika dia ingin untuk mengungkapkan isi hatinya maka dia berbicara menggunakan bahasanya. Jadi Allah ﷻ Subhanahu Wa Ta'ala memiliki bahasa jiwa yang kemudian diungkapkan oleh Muhammad dengan bahasa Arab. Sehingga menurut mereka Al-Quran itu bukan firman Allah ﷻ akan tetapi terjemahan atau ungkapan dari firman Allah ﷻ. Ini adalah keyakinan yang tidak benar. Bantahannya ada pada ayat ini:
Bantahan
Pertama: Allah ﷻ berfirman ketika bertemu dengan Nabi Musa
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah ﷻ, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”
Ini adalah perkataan Allah ﷻ dan bukan perkataan malaikat, karena tidak mungkin malaikat ketika mewakili Allah ﷻ berkata “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah ﷻ, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku”. Karena jika malaikat mengatakan “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah ﷻ, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku” maka malaikat tersebut kafir. Lain halnya jika malaikat mengatakan “sesungguhnya dia adalah Allah ﷻ” maka mungkin kita bisa terima bahwa ini adalah perkataan malaikat. Namun ternyata dalam ayat ini “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah ﷻ, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku” menggunakan kata “sesungguhnya Aku ini adalah Allah ﷻ” maka bagaimana mungkin itu adalah perkataan malaikat. Bahkan dalam ayat lain Allah ﷻ mengancam malaikat,
وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَٰهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَٰلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ
“Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: "Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah ﷻ", maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 29)
Jadi dalam ayat surat thaha ini yang berbicara adalah Allah ﷻ bukan malaikat. Kalau seandainya yang berbicara adalah malaikat dan bukan Allah ﷻ maka untuk apa Nabi Musa diberi gelar Kalimullah yaitu yang berbicara langsung dengan Allah ﷻ. Juga betapa banyak manusia yang berbicara dengan malaikat malaikat sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits. Kalau ternyata yang berbicara kepada Nabi Musa bukan bukan Allah ﷻ maka Nabi Musa tidak istimewa.
Demikian juga berdasarkan firman-Nya dalam surat ini,
وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰ
“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).”
Ini menunjukkan bahwa yang didengar adalah suara dan Allah ﷻ bersuara yang suara tersebut didengar oleh nabi Musa. Dan yang didengar oleh nabi Musa adalah,
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah ﷻ, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”
Mereka mengatakan bahwa firman Allah ﷻ adalah ma’na, maka ma’na tidak bisa didengar. Karena ma’na hanya bisa dipahami bukan didengar. Ini adalah bantahan kepada mereka yang terlanjur terkena pemikiran filsafat sehingga mereka mentakwil sifat Allah ﷻ dan ini menyelisihi akidah Ahlus Sunnah secara umum. Semua kaum muslimin di alam semesta ini ketika membuka Al-Quran mereka mengatakan ini adalah kalamullah.