Makna Ayat
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah ﷻ melarang Nabi ﷺ untuk melihat kenikmatan yang dimiliki oleh orang-orang kafir Quraisy. وَلَا تَمُدَّنَّ ‘janganlah kamu memanjangkan (pandanganmu)’ artinya memandang dengan pandangan yang lama dan kagum. Para ulama menjelaskan bahwa yang dilarang adalah memandang kenikmatan dunia yang dimiliki oleh orang-orang kafir dengan lama disertai rasa kagum dengan nikmat-nikmat yang Allah ﷻ berikan itu(225 ). Apabila memandang karena baru mengenalnya, maka hal itu tidak dilarang. Justru, yang dilarang adalah memandangnya dengan lama. Karena Allah ﷻ memberikan kenikmatan tersebut hanya kepada sebagian dari mereka saja. Sebagian dari mereka pun ada yang lemah dan kurang mampu, meskipun ada juga dari mereka yang memiliki kekayaan.
Bunga Kehidupan Dunia
Bunga adalah benda yang indah, harum dan memiliki warna yang bermacam-macam, hingga enak dilihat dan semerbak baunya. Akan tetapi, dia cepat layu -inilah sifat negatifnya-. Allah ﷻ menyebut kenikmatan dunia dengan زَهْرَة, artinya Allah ﷻ menyamakan kehidupan dunia ini dengan bunga yang cepat layu, jika manusia tidak memiliki kehidupan dunia, atau mungkin dia memilikinya, namun dengan silih bergantinya waktu, pasti akan menghilang tentunya dia akan menjadi layu.
Peringatan
Oleh karenanya, janganlah seseorang terpedaya dengan kehidupan dunia dengan mencarinya sebanyak-banyaknya. Karena, sejatinya dirinya hanya bagaikan orang yang mengumpulkan bunga yang sebenarnya akan layu beberapa saat setelahnya.
Kehidupan Dunia yang Cepat
Kehidupan dunia ini sangat cepat sekali dibandingkan dengan kehidupan akhirat, sebagaimana bunga mawar yang cepat layu.
Larangan Memandang
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia.”
Tafsir Lafaz رِزْقُ رَبِّكَ
Terdapat dua tafsir pada lafaz رِزْقُ رَبِّكَ. Pertama, الرِّزْقُ العَاجِل ‘rizki yang disegerakan’ artinya adalah rizki yang halal, sehingga tidak membuat mereka lalai dari negeri akhirat. Kedua, الرِّزْقُ الآجِل ‘rizki yang ditangguhkan’ artinya adalah surga.
Peringatan Kehidupan Dunia
Pada ayat ini menjadi peringatan kepada kita semua agar tidak terpedaya dengan dunia ini. Zaman dahulu, orang-orang sangat jarang bisa melihat kenikmatan-kenikmatan yang dimiliki oleh orang-orang kafir, sehingga ketika mereka melihatnya, maka mereka akan memandang dengan lama karena terkagum-kagum. Namun, pada zaman sekarang, seseorang cukup dengan melihat media sosial, mereka dapat menemukan hal itu dengan mudah, yang sangat berpeluang sekali baginya terfitnah dengan godaan itu, sehingga membuatnya lalai dari mengingat Allah ﷻ.
Kehidupan Nabi ﷺ
Kehidupan Nabi ﷺ sangat sederhana, jika hendak merenungi perkataan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,
إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الهِلاَلِ، ثُمَّ الهِلاَلِ، ثَلاَثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ
“Sungguh, kamu melihat kepada hilal, kemudian hilal (lagi), tiga hilal dalam dua bulan berturut-turut, dan tidak api yang dinyalakan di rumah-rumah Nabi ﷺ.”
Peringatan Kehidupan Dunia
Dunia hanyalah tempat singgah untuk waktu yang sebentar. Kehidupan yang sebenarnya adalah di alam barzakh hingga di alam akhirat. Oleh karena itu, jika orang hidup di dunia ini , sejatinya dia telah singgah ke suatu tempat yang sebentar saja, maka hendaknya dia tidak bermewah-mewah, karena kehidupan dunia hanyalah sementara. Perjalanan yang sesungguhnya masih sangat panjang.
Peringatan Kehidupan Akhirat
Jika kita masih hidup di dunia ini, artinya perjalanan kita baru sebentar. Di alam janin selama sembilan bulan, lalu hidup di alam dunia selama 40-60 tahun, setelah itu menuju perjalanan yang sesungguhnya yaitu alam barzakh selama rastusan hingga ribuan tahun, kemudian dikumpulkan di padang mahsyar hingga 50.000 tahun, akhirnya kehidupannya yang sesungguhnya akan ditentukan di dalam surga atau neraka yang kekal abadi.
Peringatan Kehidupan Dunia
Di dalam Sahih Bukhari juga disebutkan tatkala Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu berbuka puasa, lalu dihidangkan makanan di depannya, maka dia berkata,
قُتِلَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّي، كُفِّنَ فِي بُرْدَةٍ، إِنْ غُطِّيَ رَأْسُهُ، بَدَتْ رِجْلاَهُ، وَإِنْ غُطِّيَ رِجْلاَهُ بَدَا رَأْسُهُ أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا مَا أُعْطِينَا - وَقَدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِي حَتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ
“Mush’ab bin ‘Umair telah terbunuh (mati syahid) dan dia lebih baik dari pada aku, dia dikafani hanya dengan sebuah kain, jika ditutup kepalanya, maka tampak kedua kakinya dan jika ditutup kedua kakinya, maka tampak kepalanya. Hamzah telah terbunuh dan dia lebih baik dari pada aku, tidak ada suatu apa pun yang bisa mengkafaninya kecuali sebuah kain. Kita telah diberikan dunia – kita khawatir kebaikan-kebaikan dunia disegerakan kepada kita (dan mengurangi jatah kita di akhirat kelak), kemudian dia pun menangis sehingga meninggalkan makanannya.”
Peringatan Kehidupan Dunia
Mush’ab bin ‘Umair radhiallahu ‘anhu meninggal dunia dalam keadaan tidak memiliki dunia sama sekali, kecuali secarik kain yang tidak mampu untuk menutupkan seluruh tubuhnya. Oleh karenanya, para ulama mengatakan bahwa seorang mukmin boleh menikmati kenikmatan dunia selama tidak menghalanginya dari kehidupan akhirat dan tenggelam dalam kenikmatan tersebut. Karena, jika seseorang terlalu perhatian dengan kemewahan dunia, maka hal ini menunjukkan perhatiannya yang kurang terhadap kehidupan akhirat. Bagaimanapun juga kecintaan dunia dengan kecintaan akhirat tidak mungkin digabungkan. Sesekali dibolehkan bagi seseorang untuk menikmati kehidupan dunia, akan tetapi tidak dengan terus menerus. Sehingga, jika dia terlalu mewah memiliki kekayaan, maka akan berakibat ketakutan ketika menghadapi kematian. Namun, jika seseorang mencari harta untuk akhirat, maka hal itu tidaklah dilarang, seperti menginfakkan hartanya kepada fakir miskin, anak yatim, berdakwah dan amal baik lainnya. Intinya, jangan sampai hatinya terlalaikan, karena kenyataannya banyak orang yang memiliki harta yang banyak, namun lalai dari kehidupan akhirat.