Makna Syiar-Syiar Allah
Selanjutnya Allah SWT berfirman:
{يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ}
{#Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syiar-sy'iar Allah.#} (Al-Maidah, [5:2])
Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan syiar-syiar Allah ialah manasik haji. Menurut Mujahid, Safa dan Marwah, serta hadyu dan budna termasuk syiar-syiar Allah.
Makna Syiar-Syiar Allah
Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan syiar-syiar Allah ialah semua yang diharamkan oleh Allah. Dengan kata lain, janganlah kalian menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT.
Makna Syiar-Syiar Allah
Oleh karena itu, Allah SWT berfirman:
{وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ}
{#dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram.#} (Al-Maidah, [5:2])
Makna yang dimaksud ialah harus menghormatinya dan mengakui keagungannya, dan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah melakukannya di masa-masa itu.
Makna Syiar-Syiar Allah
Seperti pengertian yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:
{يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌ}
{#Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar."#} (Al-Baqarah, [2:217])
Makna Syiar-Syiar Allah
Allah SWT telah berfirman:
{اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا}
{#Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan.#} (At-Taubah, [9:36]).
Makna Syiar-Syiar Allah
Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan dari Abu Bakrah, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda dalam haji wada':
{اِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهٖ يَوْمَ خَلَقَ اللّٰهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ. ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَر الَّذِيْ بَيْنَ جُمَادٰى وَشَعْبَانَ}
{#"Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaannya di hari Allah menciptakan langit dan bumi; satu tahun adalah dua belas bulan; empat bulan di antaranya adalah bulan haram (suci) tiga (di antaranya) berturut-turut, yaitu Zul Qa'dah, Zul Hijjah, dan Muharram serta Rajab Mudar jatuh di antara bulan Jumada dan bulan Sya'ban."#}
Makna Syiar-Syiar Allah
Hal ini menunjukkan berlangsungnya status haram bulan-bulan haram tersebut sampai dengan akhir waktu (hari kiamat), seperti yang dikatakan oleh mazhab sejumlah ulama salaf.
Makna Syiar-Syiar Allah
Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA sehubungan dengan makna firman-Nya: {#dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram.#} (Al-Maidah, [5:2]); Janganlah kalian menghalalkan perang padanya.
Makna Syiar-Syiar Allah
Hal yang sama telah dikatakan oleh Muqatil ibnu Hayyan dan Abdul Karim ibnu Malik Al-Jazari, dipilih oleh Ibnu Jarir.
Makna Syiar-Syiar Allah
Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa hal tersebut telah di-mansukh, dan boleh memulai peperangan dalam bulan-bulan haram. Mereka mengatakan demikian berpegang kepada firman Allah SWT yang mengatakan:
{فَاِذَا انْسَلَخَ الْاَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُّمُوْهُمْ}
{#Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka.#} (At-Taubah, [9:5])
Makna Syiar-Syiar Allah
Makna yang dimaksud ialah empat bulan yang berlaku itu. Mereka mengatakan, tidak disebutkan adanya pengecualian antara bulan-bulan haram dan yang lainnya.
Makna Syiar-Syiar Allah
Imam Abu Ja'far meriwayatkan adanya kesepakatan perihal bahwa Allah membolehkan memerangi orang-orang musyrik dalam bulan-bulan haram maupun bulan-bulan lainnya.
Makna Syiar-Syiar Allah
Abu Ja'far mengatakan bahwa mereka sepakat pula seandainya orang musyrik mengalungkan serat-serat pepohonan tanah suci pada lehernya atau kedua lengannya, maka hal tersebut bukan merupakan keamanan baginya dari pembunuhan, jika dia tidak terikat dengan perjanjian perlindungan atau keamanan dari kaum muslim.
Makna Syiar-Syiar Allah
Masalah ini memerlukan pembahasan yang lebih luas dan lebih panjang, tetapi tempatnya bukan pada kitab ini.
Makna Syiar-Syiar Allah
Firman Allah SWT:
{وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ}
{#jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya dan binatang-binatang qalaid.#} (Al-Maidah, [5:2])
Makna Syiar-Syiar Allah
Maksudnya, janganlah kalian tidak ber-ihda (berkurban) untuk Baitullah, karena sesungguhnya hal tersebut mengandung makna mengagungkan syiar-syiar Allah; jangan pula kalian tidak memberinya kalungan sebagai tanda yang membedakannya dari ternak lainnya, agar hal ini diketahui bahwa ternak tersebut akan dikurbankan untuk Kabah.
Makna Syiar-Syiar Allah
Dengan demikian, maka orang-orang tidak berani mengganggunya. Sekaligus mendorong orang yang melihatnya untuk melakukan hal yang semisal; karena sesungguhnya barang siapa yang menyerukan kepada jalan petunjuk, maka baginya pahala yang semisal dengan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka barang sedikit pun.
Makna Syiar-Syiar Allah
Untuk itulah ketika Rasulullah SAW melakukan haji, terlebih dahulu beliau menginap di Zul Hulaifah, yaitu di lembah Aqiq. Keesokan harinya beliau menggilir semua istrinya yang saat itu ada sembilan orang. Kemudian beliau mandi dan memakai wewangian, lalu salat dua rakaat.
Makna Syiar-Syiar Allah
Sesudah itu beliau memberi tanda kepada ternak hadyunya dan mengalunginya dengan kalungan tanda, lalu ber-ihlal (berihram) untuk haji dan umrah. Saat itu ternak hadyu Nabi SAW terdiri atas ternak unta yang cukup banyak jumlahnya, mencapai enam puluh ekor, terdiri atas berbagai jenis dan warna yang semuanya baik.
Makna Syiar-Syiar Allah
Selaras dengan apa yang disebutkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya:
{ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ}
{#Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.#} (Al-Hajj, [22:32])
Makna Syiar-Syiar Allah
Menurut sebagian ulama salaf, yang dimaksud dengan "mengagung-kannya" ialah memilihnya dari yang baik-baik dan yang gemuk-gemuk. Ali ibnu Abu Talib RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kami untuk memberikan tanda pada mata dan telinga (ternak hadyunya).
Makna Syiar-Syiar Allah
Demikianlah menurut riwayat ahlus sunan.
Makna Syiar-Syiar Allah
Muqatil ibnu Hayyan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: {#dan jangan (pula) binatang-binatang qalaid.#} (Al-Maidah, [5:2]); Dengan kata lain, janganlah kalian mengganggunya.
Makna Syiar-Syiar Allah
Disebutkan bahwa dahulu ahli Jahiliah bila keluar dari tanah airnya di luar bulan-bulan haram, mereka mengalungi dirinya dengan bulu domba dan bulu unta, dan orang-orang musyrik Tanah Suci mengalungi dirinya dengan serat-serat pepohonan Tanah Suci.
Makna Syiar-Syiar Allah
Karena itu, mereka aman (tidak ada yang berani mengganggunya). Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Makna Syiar-Syiar Allah
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Sulaiman. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnul Awwam, dari Sufyan ibnu Husain, dari Al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas RA yang mengatakan bahwa telah di-mansukh dari surat Al-Maidah sebanyak dua ayat, yaitu ayat mengenai qalaid dan firman-Nya:
{فَاِنْ جَاۤءُوْكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ اَوْ اَعْرِضْ عَنْهُمْ}
{#Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka puluskanlah (perkara itu) di antara mereka atau berpalinglah dari mereka.#} (Al-Maidah, [5:42])
Makna Syiar-Syiar Allah
Telah menceritakan kepada kami Al-Munzir ibnu Syazan, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Addi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Addi, dari Ibnu Auf yang mengatakan, "Aku pernah bertanya kepada Al-Hasan (Al-Basri), 'Apakah ada sesuatu yang di-mansukh dari Al-Maidah?' Al-Hasan menjawab, 'Tidak ada'."
Makna Syiar-Syiar Allah
Ata mengatakan bahwa dahulu mereka mengalungi (dirinya) dengan akar tumbuh-tumbuhan Tanah Suci, karenanya mereka aman. Maka Allah melarang menebang (memotong) pepohonannya.
Makna Syiar-Syiar Allah
Hal yang sama dikatakan oleh Mutarrif ibnu Abdullah.
Makna Syiar-Syiar Allah
Firman Allah SWT:
{وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا}
{#dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya.#} (Al-Maidah, [5:2])
Makna Syiar-Syiar Allah
Artinya, janganlah kalian menghalalkan perang terhadap orang-orang yang mengunjungi Baitullah yang suci dan barang siapa yang memasukinya aman.
Makna Syiar-Syiar Allah
Jangan pula mengganggu orang yang mengunjunginya dengan tujuan mencari karunia Allah dan berharap mendapat rida-Nya. Jangan sekali-kali kalian menghalang-halanginya. jangan mencegahnya, jangan pula mengacaukannya.
Makna Syiar-Syiar Allah
Mujahid, Ata, Abul Aliyah, Mutarrif ibnu Abdullah. dan Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair, Ar-Rabi' ibnu Anas, Muqatil ibnu Hayyan, dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: {#sedang mereka mencari karunia Allah.#} (Al-Maidah, [5:2]); Makna yang dimaksud ialah berdagang.
Makna Syiar-Syiar Allah
Penafsiran ini sama dengan apa yang telah disebutkan sehubungan dengan firman-Nya:
{لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ}
{#Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhan kalian.#} (Al-Baqarah, [2:198])
Makna Syiar-Syiar Allah
Mengenai firman-Nya: {#dan keridaan (dari Tuhan kalian).#} (Al-Maidah, [5:2]); Menurut Ibnu Abbas, mereka mencari rida Allah melalui ibadah hajinya.
Makna Syiar-Syiar Allah
Ikrimah, As-Saddi, dan Ibnu Jarir menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-Hatm ibnu Hindun Al-Bakri; dia pernah menyerang ternak milik orang-orang Madinah (merampoknya), kemudian pada tahun berikutnya dia berumrah ke Baitullah.
Makna Syiar-Syiar Allah
Maka sebagian sahabat bermaksud menghadangnya di tengah jalan yang menuju ke Baitullah. Lalu Allah SWT menurunkan firman-Nya: {#dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya.#} (Al-Maidah, [5:2])
Makna Syiar-Syiar Allah
Ibnu Jarir meriwayatkan adanya kesepakatan bahwa orang musyrik boleh dibunuh jika ia tidak mempunyai jaminan keamanan, sekalipun dia bertujuan mengunjungi Baitullah yang suci atau Baitul Maadis.
Makna Syiar-Syiar Allah
Hukum yang berkaitan dengan mereka (orang-orang musyrik) di-mansukh. Orang yang bertujuan ke Baitullah dengan maksud untuk melakukan ke-mulhid-an, kemusyrikan, dan kekufuran jelas harus dilarang.
Makna Syiar-Syiar Allah
Allah SWT telah berfirman:
{*يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اِنَّمَا الْمُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هٰذَا
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.