Makna Kata Wali
Kata الوَلِيّ memiliki makna yang banyak. Masing-masing maknanya sesuai dengan konteks yang sedang dibicarakan. Contohnya sabda Rasulullah ﷺ,
Makna Wali Pada Hadis
فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
“Sultan adalah wali bagi yang tidak memiliki wali.”
Makna wali pada hadis ini berbeda dengan wali yang terdapat pada ayat di atas. Namun, seluruh maknanya menunjukkan makna kedekatan, kerjasama dan pertolongan.
Makna Wali Pada Ayat
Makna wali pada ayat ini kaitannya dengan loyalitas yang berkonsekuensi pertolongan dan bantuan. Sehingga makna ayat ini adalah: “Janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi maupun Nasrani sebagai wali-wali yang kalian tolong dalam rangka memberi kemudaratan kepada kaum muslimin.”
Alasan Melarang Menjadikan Orang Kafir Sebagai Wali
Alasannya adalah sebagaimana yang selanjutnya Allah ﷻ sebutkan,
بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
“Sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.”
Yaitu, mereka saling tolong-menolong satu dengan lainnya. Apakah maksud ayat ini adalah orang Yahudi adalah wali bagi Yahudi, dan orang Nasrani wali bagi Nasrani? Atau, antara Yahudi dan Nasrani saling timbal balik menjadi wali di antara mereka? Allahu a’lam.
Dari zahir ayat ini, orang-orang Yahudi dan Nasrani saling tolong-menolong untuk melawan Islam. Oleh karena itu terdapat sebuah istilah:
الْكُفْرُ مِلَّةٌ وَاحِدَةٌ
“Kekufuran adalah agama yang satu.”
Penindasan Kaum Muslimin
Kita dapati di sejumlah negeri/daerah kaum muslimin yang ditindas oleh berbagai penganut agama lain. Terlebih apabila kaum muslimin itu minoritas di daerah tersebut. Sebaliknya, kaum muslimin yang berkuasa dan mayoritas di suatu daerah/negara tidak menindas minoritas dari agama apapun.
Penindasan yang dialami oleh kaum muslimin itu tidak lain karena mereka bertauhid kepada Allah ﷻ dan tidak berbuat syirik. Allah ﷻ berfirman,
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
Ancaman Menjadikan Orang Kafir Sebagai Wali
Menjadikan mereka wali termasuk dosa besar, sehingga pelakunya diancam termasuk golongan mereka. Ancaman semisal ini sebagaimana halnya sabda Rasulullah ﷺ,
وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Siapa berbuat curang maka tidak termasuk golongan kami.”
Bahkan lebih dari itu, loyal kepada mereka dapat mengakibatkan kekufuran, jika pelakunya menolong mereka, dalam rangka ingin meninggikan agama mereka dan menghancurkan Islam.
Jenis Orang Kafir
Pertama: yang memusuhi kaum muslimin, maka kita dilarang bekerjasama dengan mereka, khususnya dalam hal yang menyangkut urusan kaum muslimin.
Kedua: yang tidak memusuhi kaum muslimin, maka kita tidak dilarang untuk berbuat baik kepada mereka. Allah ﷻ berfirman,
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
Cinta yang Alami
Cinta yang bersifat alami itu tidak dilarang selama tidak mencapai level مُوَادَّة, yaitu saling timbal-balik dalam berkasih-sayang, yang itu terkadang mengantarkan pada tolong-menolong yang memudaratkan kaum muslimin. Oleh karena itu Allah ﷻ berfirman,
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan Allah memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka, dan mereka pun rida kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”
Muwalat (Loyalitas)
Muwalat (loyalitas dengan menjadikan mereka sebagai wali) itu ada dua tingkatan:
Pertama: pada derajat kekufuran, yaitu membantu mereka dalam rangka melawan Islam. Yaitu kita membantu mereka agar kaum muslimin terpuruk dan agama mereka menjadi tertinggikan. Muwalat pada tingkatan ini termasuk kekufuran.
Kedua: hanya sekedar membantu, dan itu menimbulkan mudarat. Yaitu membantu mereka dengan tanpa niatan untuk menjatuhkan Islam dan meninggikan agama mereka, akan tetapi itu memudaratkan kaum muslimin. Ini adalah dosa besar yang mendekati kekufuran.