Makna Kata
Dosa-Dosa Besar
Ayat ini menjelaskan tentang ciri-ciri para penghuni surga diantaranya, menjauhi dosa-dosa besar. Allah ﷻ tidak mengatakan, “Orang-orang yang tidak melakukan dosa-dosa besar” akan tetapi “Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar” karena kata “Menjauhi” lebih sempurna dari pada tidak melakukan. Bisa jadi seorang tidak melakukan dosa besar akan tetapi ia dekat dan mengarah kepada perbuatan tersebut.
Dosa-Dosa Kecil
Adapun yang dimaksud dengan كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ atau الكَبِيرَةُ“dosa-dosa besar” adalah dosa-dosa yang diancam dengan neraka secara khusus. Meskipun semua dosa diancam dengan neraka akan tetapi sebagian dosa ada yang disebutkan ancaman neraka secara khusus dan inilah yang dinamakan dengan dosa besar.
Dosa-Dosa Kecil Menurut Pendapat Pertama
Adapun الْفَوَاحِشَ menurut pendapat sebagian ulama adalah dosa-dosa besar yang terancam dengan hukuman had(90), seperti mencuri, berzina, praktik homo seksual dan selainnya. Pendapat lain menyebutkan bahwa semua termasuk dari kabair tetapi Al-Fawahisy adalah perbuatan yang keji yang mana menurut logika seseorang hal itu adalah perbuatan buruk(91) karena ada dosa-dosa besar yang kita tidak tahu dengan logika kita akan tetapi syariat menjelaskan, contoh seperti sholatnya seseorang tanpa wudhu terlebih dahulu, ini adalah dosa besar yang kita tahu melalui syariat.
Dosa-Dosa Kecil Menurut Pendapat Kedua
Banyak perbuatan yang haram meskipun tidak ada dalil tapi kita tahu itu adalah perbuatan keji semisal zina, mencuri dan membunuh kita tahu bahwa hal-hal tersebut tidak benar dan keji meskipun seandainya tidak ada dalil dari syariat namun logika kita tahu bahwa hal-hal tersebut adalah perbuatan keji. Intinya Al-kabair dan Al-Fawahisy adalah dosa-dosa besar akan tetapi ulama khilaf kenapa dipisahkan penyebutannya dalam ayat di atas.
Pengecualian
Kata Allah ciri-ciri penghuni syurga mereka menjauhi Al-Kabair dan Al-fawahisy kecuali اللَّمَم mereka tidak bisa meninggalkannya. Apakah yang dimaksud dengan اللَّمَم ? Terdapat khilaf diantara para ulama secara umum banyak pendapa tapi terfokus pada dua pendapat(92):
- Pendapat pertama mengatakan adalah dosa-dosa kecil yang mana seseorang tidak dapat menghindar darinya. Di antara contoh dosa-dosa kecil adalah memandang yang haram menyentuh yang haram, mencium yang diharamkan ini adalah dosa-dosa kecil yang tidak sampai pada derajat zina. Banyak oang tidak mampu menghindar dari dosa-dosa tersebut. Jika diartikan dengan dosa-dosa kecil maka pengecualian di sini disebut dengan ististina’ munqoti’ (pengecualian yang terputus) maksudnya yang dikecualikan bukan bagian dari yang awal contoh : “Seluruh murid hadir kecuali Budi”, Budi adalah murid, ini yang dinamakan istisna’ muttashil (pengecualian yang tersambung) karena budi bagian dari murid kelas. Adapun contoh istisna’ munqhoti’ : “Seluruh murid hadir dikelas kecuali pak satpam”, inilah yang dinamakan pengecualian yang terputus karena pak satpam bukan bagian dari murid kelas. Contoh istisna’ munqhoti’ dalam Al-Quran juga terdapat dalam firman Allah ﷻ ketika menceritakan tentang iblis
وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir". (QS Al Baqoroh : 36)
“Maka mereka pun sujud kecuali Iblis” ini adalah istisna’ munqhothi’ karena Iblis bukan bagian dari malaikat.
Pengecualian Menurut Pendapat Kedua
Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa ayat diatas yang menjelaskan bahwa orang-orang yang masuk surga adalah orang-orang yang menjauhkan diri dari dosa-dosa besar kecuali dosa-dosa kecil, adalah istisna’ munqhoti’. Oleh karena itu menurut pendapat ini dosa-dosa kecil yang setiap manusia tidak bisa terbebas darinya maka akan diampuni oleh Allah ﷻ dan dosa-dosa tersebut bukan bagian dari dosa-dosa besar dan bukan merupakan dosa-dosa yang menghalangi seseorang masuk kedalam surga, sebagaimana firman Allah ﷻ :
إنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا
"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)". (QS An Nisa’ : 31)
Pengecualian Menurut Al-Imam Ibnul Qoyyim
Adapun اللَّمَم menurut pendapat pertama adalah dosa-dosa kecil yang tidak diulangi terus-menerus akan tetapi dia berusaha menghindarinya meskipun terkadang terjerumus kembali, bukan dosa yang dia sengaja untuk terus menerus melakukannya karena makna اللَّمَم dalam bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang tidak berkesinambungan. Seperti perkataan Al Qurthuby dalam tafsirnya,
وَالْعَرَبُ تَقُولُ مَا يَأْتِينَا إِلَّا لِمَامًا، أَيْ فِي الْحِينِ بَعْدَ الْحِينِ
“Orang-orang Arab dahulu berkata, “Hal itu tidaklah datang kepada kami kecuali لِمَامًا kadang-kadang saja (tidak terus-terusan)”(94).
Kesimpulan
Kesimpulannya dosa-dosa kecil yang tidak menghalangi seseorang masuk surga adalah dosa-dosa kecil yang tidak dilakukan secara terus menerus oleh pelakunya. Adapun orang yang terus-terusan melakukan dosa kecil dapat menghalangi dia untuk masuk surga. Hendaknya seseorang yang terjatuh dalam dosa-dosa kecil segera beristighfar dan tidak Ishrar (terus-menerus) dalam dosa-dosanya, sebagaimana perkataan para ulama
لاَ صَغِيرَةَ مَعَ الإِصْرَارِ وَلاَ كَبِيرَةَ مَعَ الاِستِغْفَارِ
“Tidak dinamakan dosa kecil jika dilakukan secara terus menerus dan tidak pula dianggap dosa besar jika dia bertobat darinya”(95).
Ayat Al-Qur'an
Kemudian firman Allah ﷻ :
هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ
“Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu”.
Ayat ini menjelaskan bahwasanya bukan hanya sekarang Allah tahu tentang diri kita. Jangankan kondisi kita sekarang, waktu kita belum ada Allah tahu dan Allah juga tahu kondisi kita saat kita masih berbentuk janin dalam perut ibu-ibu kita apalagi sekarang ketika kita sudah terlahir ke dunia maka Allah tahu semuanya jangan sampai kita merasa ada perkara yang Allah tidak ketahui dari kita. Oleh karenanya,
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى
“Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa”
Para ulama memaknai ayat ini dengan dua tafsiran, kata Ibnu ‘Asyur bahwasanya maknanya adalah janganlah menganggap diri kalian suci(97) baik dengan keyakinan ataupun dengan perkataan ataupun dengan isyarat yang menunjukkan seakan-akan kalian adalah wali-wali Allah dan seakan akan kalian adalah orang-orang saleh. Atau maknanya jangan kalian menganggap suci orang lain dengan perkataan kalian, “Si Fulan diridhoi dan dimuliakan oleh Allah ﷻ” atau “Si Fulan masuk surga” dan sebagainya. Semua itu yang tahu hanyalah Allah ﷻ dan Allah lebih tahu siapa saja yang bertakwa kepada-Nya.
Ayat Al-Qur'an Lainnya
Kemudian firman Allah ﷻ :
اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ
“Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya”. Ini kembali ke dua pendapat tadi, bahwa orang-orang yang melakukan dosa-dosa kecil yang tidak mampu terhindar darinya atau dosa-dosa besar kemudian bertobat dan tidak melakukannya lagi maka sesungguhnya Allah ﷻ maha luas ampunan-Nya. Allah ﷻ berfirman :
هُوَ اَهْلُ التَّقْوٰى وَاَهْلُ الْمَغْفِرَةِ
"Dialah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan yang berhak memberi ampunan". (QS Al Mudatsir : 56)
Ayat Al-Qur'an Lainnya
Seorang penyair juga berkata :
يا ربِّ إنْ عَظُمَتْ ذُنُوْبِيْ كَثْرَةً ... فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ
“Ya Allah kalau seandainya dosa-dosaku sangat banyak….sungguh aku mengetahui bahwa ampunan-Mu lebih besar”. (96)
Ayat Al-Qur'an Lainnya
Kemudian firman Allah ﷻ :
هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ
“Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu”.
Ayat ini menjelaskan bahwasanya bukan hanya sekarang Allah tahu tentang diri kita. Jangankan kondisi kita sekarang, waktu kita belum ada Allah tahu dan Allah juga tahu kondisi kita saat kita masih berbentuk janin dalam perut ibu-ibu kita apalagi sekarang ketika kita sudah terlahir ke dunia maka Allah tahu semuanya jangan sampai kita merasa ada perkara yang Allah tidak ketahui dari kita. Oleh karenanya,
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى
“Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa”
Para ulama memaknai ayat ini dengan dua tafsiran, kata Ibnu ‘Asyur bahwasanya maknanya adalah janganlah menganggap diri kalian suci(97) baik dengan keyakinan ataupun dengan perkataan ataupun dengan isyarat yang menunjukkan seakan-akan kalian adalah wali-wali Allah dan seakan akan kalian adalah orang-orang saleh. Atau maknanya jangan kalian menganggap suci orang lain dengan perkataan kalian, “Si Fulan diridhoi dan dimuliakan oleh Allah ﷻ” atau “Si Fulan masuk surga” dan sebagainya. Semua itu yang tahu hanyalah Allah ﷻ dan Allah lebih tahu siapa saja yang bertakwa kepada-Nya.
Ayat Al-Qur'an Lainnya
Kemudian firman Allah ﷻ :
اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ
“Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya”. Ini kembali ke dua pendapat tadi, bahwa orang-orang yang melakukan dosa-dosa kecil yang tidak mampu terhindar darinya atau dosa-dosa besar kemudian bertobat dan tidak melakukannya lagi maka sesungguhnya Allah ﷻ maha luas ampunan-Nya. Allah ﷻ berfirman :
هُوَ اَهْلُ التَّقْوٰى وَاَهْلُ الْمَغْفِرَةِ
"Dialah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan yang berhak memberi ampunan". (QS Al Mudatsir : 56)
Ayat Al-Qur'an Lainnya
Seorang penyair juga berkata :
يا ربِّ إنْ عَظُمَتْ ذُنُوْبِيْ كَثْرَةً ... فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ
“Ya Allah kalau seandainya dosa-dosaku sangat banyak….sungguh aku mengetahui bahwa ampunan-Mu lebih besar”. (96)
Ayat Al-Qur'an Lainnya
Kemudian firman Allah ﷻ :
هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ
“Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu”.
Ayat ini menjelaskan bahwasanya bukan hanya sekarang Allah tahu tentang diri kita. Jangankan kondisi kita sekarang, waktu kita belum ada Allah tahu dan Allah juga tahu kondisi kita saat kita masih berbentuk janin dalam perut ibu-ibu kita apalagi sekarang ketika kita sudah terlahir ke dunia maka Allah tahu semuanya jangan sampai kita merasa ada perkara yang Allah tidak ketahui dari kita. Oleh karenanya,
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى
“Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa”
Para ulama memaknai ayat ini dengan dua tafsiran, kata Ibnu ‘Asyur bahwasanya maknanya adalah janganlah menganggap diri kalian suci(97) baik dengan keyakinan ataupun dengan perkataan ataupun dengan isyarat yang menunjukkan seakan-akan kalian adalah wali-wali Allah dan seakan akan kalian adalah orang-orang saleh. Atau maknanya jangan kalian menganggap suci orang lain dengan perkataan kalian, “Si Fulan diridhoi dan dimuliakan oleh Allah ﷻ” atau “Si Fulan masuk surga” dan sebagainya. Semua itu yang tahu hanyalah Allah ﷻ dan Allah lebih tahu siapa saja yang bertakwa kepada-Nya.
Ayat Al-Qur'an Lainnya
Kemudian firman Allah ﷻ :
اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ
“Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya