Tafsir Surah Al-Waqi’ah
Hadits-Hadits yang Menyebutkan Surah Al-Waqi’ah
Terdapat beberapa hadits-hadits yang menyebutkan surah Al-Waqi’ah secara khusus. Di antaranya adalah hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ,
يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ شِبْتَ، قَالَ: شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالوَاقِعَةُ، وَالمُرْسَلَاتُ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
“Wahai Rasulullah, engkau telah beruban.” Beliau bersabda, ‘Aku telah dibuat beruban oleh Surat Hud, Al-Waqi'ah, Al-Mursalat, 'Amma yatasaa aluun (An-Naba’), dan Idzasysyamsu kuwwirat (At-Takwir)’.”(1)
Pada hadits ini Nabi ﷺ menyebutkan bahwasanya ada sebagian surah di dalam Alquran yang cepat membuat Nabi ﷺ beruban, di antaranya adalah surah Hud, Al-Waqi’ah, Al-Mursalat, An-Naba’, dan At-Takwir. Surah-surah tersebut semuanya berbicara tentang dahsyatnya hari kiamat, dan mengingatkan bahwasanya kehidupan dunia hanyalah sementara dan tidak abadi.
Riwayat yang Menjelaskan Surah Al-Waqi’ah
Demikian juga riwayat menjelaskan bahwa Surah Al-Waqi’ah merupakan salah satu dari surah-surah Al-Mufashshal, yaitu termasuk dalam Thiwaal Al-Mufashshal, yaitu surah-surah al-Mufashhol yang panjang yang sering dibaca oleh Nabi ketika shalat subuh. Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhu berkata,
وَكَانَ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ الْوَاقِعَةَ وَنَحْوَهَا مِنَ السُّوَرِ
“Adalah Nabi ﷺ dalam shalat fajar (Subuh), beliau membaca surah Al-Waqi'ah dan surah-surah yang semisal dengannya.”(2)
Hadits yang Menyebutkan Kemiskinan
Di antara hadits lain yang menyebutkan tentang surah Al-Waqi’ah adalah yang banyak diyakini oleh sebagian kita bahwa surah Al-Waqi’ah dapat menghalangi kemiskinan. Ketahuilah bahwa hadits ini adalah hadits yang mungkar.
أَنَّ عُثْمَانَ دَخَلَ عَلَى ابْنِ مَسْعُودٍ يَعُودُهُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَقَالَ: مَا تَشْتَكِي؟ قَالَ: ذُنُوبِي. قَالَ: فَمَا تَشْتَهِي؟ قَالَ: رَحْمَةَ رَبِّي. قَالَ: أَفَلَا نَدْعُو لَكَ طَبِيبًا؟ قَالَ: الطَّبِيبُ أَمْرَضَنِي. قَالَ: أَفَلَا نَأْمُرُ لك بعطائك؟ قَالَ: لَا حَاجَةَ لِي فِيهِ، حَبَسْتَهُ عَنِّي فِي حَيَاتِي، وَتَدْفَعُهُ لِي عِنْدَ مَمَاتِي؟ قَالَ: يَكُونُ لِبَنَاتِكَ مِنْ بَعْدِكَ. قَالَ: أَتَخْشَى عَلَى بَنَاتِي الْفَاقَةَ مِنْ بَعْدِي؟ إِنِّي أَمَرْتُهُنَّ أَنْ يَقْرَأْنَ سُورَةَ (الْوَاقِعَةِ) كُلَّ لَيْلَةٍ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول: (مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا
“Ketika ‘Utsman menjenguk Ibnu Mas’ud saat sakit dan berakhir dengan wafatnya tersebut, beliau bertanya: ‘Apa yang kamu keluhkan?’ Dia menjawab: ‘Dosa-dosaku’. ‘Utsman berkata: ‘Apa yang kamu harapkan?’ Dia menjawab: ‘Rahmat Rabbku’. ‘Utsman kembali bertanya: ‘Apakah aku perlu panggilkan seorang dokter utukmu?’ Dia menjawab: ‘Dokterlah yang membuatku sakit’. Kemudian ‘Utsman berkata: ‘Perlukah aku mintakan untuk memberikan sesuatu kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak memerlukannya, dahulu engkau tidak memberikan kepadaku saat aku hidup (masih sehat), dan engkau memberikannya kepadaku saat aku hendak mati?’ ‘Utsman berkata: ‘Pemberian itu dapat diberikan kepada putri-putrimu sepeninggalmu’. Dia berkata: ‘Apakah kamu mengkhawatirkan kemiskinan terhadap putri-putriku setelah aku meninggal? Sungguh aku telah perintahkan kepada mereka untuk membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam. Sesungguhnya aku telah mendengar dari Rasulullah ﷺ bersabda: Siapa yang membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam dia tidak akan pernah merasakan kemiskinan selamanya’.”
Hadits ini dha’if dan bahkan mungkar, dan sebab kedha’ifan hadits ini banyak. Di antara yang menyebabkan hadits ini dha’if atau bahkan mungkar adalah sanadnya yang terputus; perawinya dha’if; ada keguncangan dalam hadits tersebut; dan matannya juga mungkar. Maka dari itu, para ulama seperti Imam Ahmad, Abu Hatim Ar-Razi, Ibnu Abi Hatim, Ad-Daruquthni, Ibnu Jauzi, dan ulama lainnya sepakat akan dha’ifnya hadits ini. Oleh karenanya hadits ini bukan sekedar dha’if, melainkan juga mungkar.
Tafsir Surah Al-Waqi’ah
Surah Al-Waqi’ah adalah surah Makkiyah, yaitu surah yang turun sebelum Nabi ﷺ berhijrah ke kota Madinah. Secara umum, ayat pertama hingga ayat terakhir dari surah Al-Waqi’ah adalah Makkiyah. Akan tetapi ada beberapa ayat yang diperselisihkan oleh para ulama, bahwa beberapa dari ayat Al-Waqi’ah tersebut merupakan Madaniyah. Akan tetapi secara umum seluruh ayat dari surah Al-Waqi’ah adalah Makkiyah, karena nuansa surah-surah Makkiyah biasanya berbicara tentang tiga perkara; hari kiamat, kerasulan Nabi ﷺ, dan Alquran, yang audiensnya tatkala itu adalah orang-orang musyrikin yang mereka mengingkari tiga perkara ini. Dan kalau kita telaah tentang surah Al-Waqi’ah ini maka kita akan dapati bahwa yang Allah ﷻ bahas dalam surah ini adalah tentang hari kiamat.
Ayat Pertama Surah Al-Waqi’ah
Allah ﷻ berfirman,
إِذا وَقَعَتِ الْواقِعَةُ
“Apabila terjadi hari kiamat.” (QS. Al-Waqi’ah : 1)
Secara bahasa, kata الْواقِعَةُ artinya adalah terjadi karena dia berasal dari isim fa’il وَقَعَ yang artinya terjadi. Ada beberapa pendapat para Ahli Tafsir tentang mengapa Allah ﷻ menamakan hari kiamat dengan Al-Waqi’ah. Pendapat pertama mengatakan bahwa Allah ﷻ menamakan hari kiamat dengan “suatu yang terjadi” untuk menjelaskan bahwasanya hari kiamat itu pasti terjadi. Oleh karenanya Allah ﷻ berfirman,
وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ
“Dan sungguh, hari Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.” (QS. Al-Hajj : 7)
Pendapat kedua mengatakan bahwa Allah ﷻ menggunakan kata Al-Waqi’ah (terjadi) karena akan ada banyak kejadian dahsyat yang akan terjadi pada hari tersebut. Semua yang terjadi pada hari kiamat adalah peristiwa yang dahsyat, mulai dari ketika manusia dibangkitkan, lalu dikumpulkan dalam kondisi tidak berpakaian dan tidak beralas kaki, kemudian hisab, mizan, sirath, surga dan neraka, semua ini adalah peristiwa yang dahsyat. Maka karena begitu banyaknya peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah hari kiamat, maka dikatakanlah hari kiamat dengan Al-Waqi’ah, yaitu hari yang penuh dengan kejadian(4).
Nama-Nama Hari Kiamat
Kita telah ketahui bersama bahwa hari kiamat memiliki banyak nama, dan nama-nama tersebut akan menggambarkan sifat dari sifat-sifat hari kiamat. Contohnya, hari kiamat disebut dengan Yaumul Akhir (hari terakhir), artinya tidak ada lagi hari setelah hari itu karena setelah itu maka semua akan abadi. Berbeda ketika kita berkata tentang dunia, maka kita akan mengatakan bahwa kehidupan hari ini akan berakhir, yaitu ketika matahari terbenam, maka esok hari akan muncul hari yang baru. Adapun hari kiamat dikatakan sebagai Yaumul Akhir karena tidak ada lagi hari yang baru setelahnya, karena matahari dan bulan tidak lagi ada waktu itu, dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka Jahannam. Contoh lain, hari kiamat disebut dengan Yaumul Qiyamah (hari berdiri), artinya manusia tatkala dibangkitkan pada hari kiamat akan berdiri dan tidak ada yang duduk apalagi berbaring. Semua manusia pada hari itu berdiri ketakutan, mata mereka terbelalak, jantung mereka terangkat hingga ke kerongkongan menanti kedatangan Rabb semesta Alam. Contoh lain, hari kiamat disebut juga dengan Ath-Thammah (malapetaka), artinya pada hari itu semuanya akan ditimpa malapetaka dan tidak ada seorang pun yang terhindar dari malapetaka tersebut. Contoh lain, hari kiamat juga disebut dengan Ash-Shakhkhah (hari ditiupnya sangkakala), artinya adalah pada hari itu akan ditiupkan sangkakala dengan suara yang sangat keras, sehingga suara yang masuk ke dalam telling-telinga manusia membuat mereka takut. Contoh lain, hari kiamat juga disebut dengan Al-Qari’ah (ketukan dengan keras), artinya adalah hari kiamat akan mengetuk hati manusia untuk dimasukkan rasa takut yang luar biasa. Dan masih banyak nama-nama hari kiamat yang lain, di antaranya adalah nama surah yang kita bahwa yaitu Al-Waqi’ah yang artinya pasti terjadi atau banyaknya peristiwa dahsyat yang terjadi.