Makna Kata Zihar
Kata zihar berasal dari zahar, artinya punggung. Dahulu di masa Jahiliah apabila seseorang dari mereka men-zihar istrinya, ia mengatakan kepada istrinya, "Engkau menurutku sama dengan punggung ibuku," yakni punggungnya sama dengan punggung ibunya. Kemudian menurut istilah syara' kata zihar ini bisa saja diberlakukan terhadap anggota tubuh lainnya secara analogi (kias). Dahulu di masa Jahiliah zihar dianggap sebagai talak, kemudian Allah SWT memberikan kemurahan bagi umat ini. Dia tidak menjadikannya sebagai talak, dan pelakunya hanya dikenai sanksi membayar kafarat, berbeda dengan apa yang berlaku di kalangan mereka di masa Jahiliah.
Peristiwa Aus ibnus Samit dan Istrinya
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa'd ibnu Ibrahim dan Ya'qub. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Ma'mar ibnu Abdullah ibnu Hanzalah, dari Yusuf ibnu Abdullah ibnu Salam, dari Khuwailah binti Sa'labah yang mengatakan, "Demi Allah, berkenaan dengan diriku dan Aus ibnus Samitlah Allah menurunkan permulaan surat Al-Mujadalah." Khuwailah melanjutkan kisahnya, "Saat itu aku menjadi istrinya (Aus ibnus Samit), sedangkan dia seorang yang sudah lanjut usia dan perangainya menjadi buruk. Dan pada suatu hari ia masuk menemuiku, lalu aku mengajukan protes terhadapnya tentang sesuatu, maka dia marah. Akhirnya ia mengatakan, 'Engkau bagiku seperti punggung ibuku.' Setelah itu Aus ibnus Samit keluar dan duduk di tempat perkumpulan kaumnya selama sesaat, kemudian ia kembali masuk menemuiku. Tiba-tiba berahinya memuncak, dia menginginkan diriku. Maka aku berkata, 'Jangan, demi Tuhan yang jiwa Khuwailah ini berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, jangan kamu bergaul denganku dulu setelah engkau mengucapkan kata-kata itu kepadaku sebelum Allah dan Rasul-Nya memutuskan hukum tentang masalah kita ini sesuai dengan hukum-Nya.' Cegahanku tiada artinya baginya, dia memelukku dengan paksa. Maka aku membela diri agar lepas dari pelukannya, dan aku dapat mengalahkannya karena tenaganya telah melemah mengingat usianya yang telah lanjut. Kusingkirkan dia dari tubuhku, kemudian aku keluar dari rumah menuju ke tempat salah seorang tetangga wanitaku. Lalu aku meminjam pakaian darinya dan langsung keluar menuju ke tempat Rasulullah SAW Setelah sampai di hadapan beliau SAW, aku duduk dan menceritakan kepada beliau apa yang telah kualami dengan suamiku, dan aku mengadu kepada beliau tentang perangainya yang buruk." Rasulullah SAW hanya menjawab, "Hai Khuwailah, anak pamanmu (suamimu) itu telah lanjut usia, maka bertakwalah kepada Allah terhadapnya." Khuwailah melanjutkan kisahnya, "Demi Allah, belum lagi aku beranjak, maka turunlah ayat Al-Qur'an mengenai diriku, dan Rasulullah SAW kelihatan seperti orang yang tertutup (tak sadarkan diri) sebagaimana biasanya bila wahyu sedang turun kepadanya. Setelah wahyu selesai, keadaan beliau kembali seperti semula, lalu bersabda kepadaku, 'Hai Khuwailah, sesungguhnya Allah telah menurunkan wahyu-Nya berkenaan dengan masalahmu dan suamimu.' Lalu Rasulullah SAW membacakan kepadaku firman berikut: {#Sungguh, Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.#} (Al-Mujadalah, [58:1]) sampai dengan firman-Nya: {#dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.#} (Al-Mujadalah, [58:4]) Maka Rasulullah SAW bersabda kepadaku, 'Perintahkanlah kepada suamimu untuk memerdekakan seorang budak.' Aku menjawab, 'Wahai Rasulullah, dia tidak memiliki harta untuk memerdekakan budak.' Rasulullah SAW bersabda, 'Maka hendaklah ia berpuasa selama dua bulan berturut-turut.' Aku berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya dia benar-benar seorang yang sudah lanjut usianya, dia tidak kuat mengerjakan puasa.' Rasulullah SAW bersabda: 'Maka hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin sebanyak satu wasaq kurma.' Aku berkata, 'Demi Allah, ya Rasulullah, dia tidak memiliki makanan sebanyak itu.' Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Kami akan membantunya dengan satu faraq kurma.' Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, aku pun akan membantunya dengan satu faraq kurma lainnya.' Rasulullah SAW bersabda, 'Kamu benar dan berbuat baik. Sekarang pergilah, dan sedekahkanlah kurma ini sebagai kifarat suamimu, kemudian perintahkanlah kepada anak pamanmu itu (suamimu) agar berbuat baik'." Khuwailah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Nabi SAW itu.
Peristiwa Salamah ibnu Sakhr
Imam Abu Daud meriwayatkan hadis ini di dalam Kitabut Thalaq, bagian dari kitab sunannya melalui dua jalur dari Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar dengan sanad yang sama. Dan di dalam lafaz Imam Abu Daud disebutkan Khuwailah binti Sa'labah. Disebut pula dengan nama Khuwailah binti Malik ibnu Sa'labah, tetapi adakalanya disingkat hingga menjadi Khuwailah; pada garis besarnya di antara pendapat-pendapat tersebut tidak ada pertentangan, karena satu sama lainnya berdekatan; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Inilah pendapat yang benar sehubungan dengan latar belakang turunnya surat ini. Adapun mengenai hadis Salamah ibnu Sakhr, sama sekali tidak mengandung pengertian yang menunjukkan bahwa ia melatarbelakangi turunnya surat ini, melainkan suatu kasus yang semakna dengan apa yang diturunkan oleh Allah dalam surat ini, yaitu kafarat memerdekakan budak, atau puasa, atau memberi makan.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar, dari Muhammad ibnu Amr ibnu Ata, dari Sulaiman ibnu Yasar, dari Salamah ibnu Sakhr Al-Ansari yang mengatakan, "Aku adalah seorang lelaki yang dianugerahi kekuatan bersetubuh melebihi apa yang dipunyai oleh selainku. Manakala bulan Ramadan masuk, maka aku men-zihar istriku hingga lepas bulan Ramadan, karena takut bila di suatu malam aku tidak dapat menahan berahiku yang akibatnya persetubuhan terus berlanjut sampai siang harinya, sedangkan diriku tidak mampu menghentikannya. Di suatu malam ketika istriku sedang melayaniku, tiba-tiba bagian yang merangsang dari istriku terbuka, maka aku tidak dapat menguasai diriku lagi dan langsung menggaulinya. Pada pagi harinya aku menemui kaumku dan kuceritakan kepada mereka peristiwa yang kualami itu. Aku katakan kepada mereka, 'Marilah kita bersama-sama menghadap kepada Nabi SAW, lalu aku akan menceritakan kepadanya perihalku itu.' Mereka menjawab, 'Tidak, demi Allah, kami tidak mau karena kami khawatir bila akan ada wahyu yang diturunkan berkenaan dengan kita, atau Rasulullah SAW mengucapkan sesuatu menyangkut perihal kita yang berakibat akan membuat kita malu. Sebaiknya engkau sendirilah yang menghadap kepada beliau dan engkau lebih bebas untuk mengutarakannya.' Maka aku pun pergi menghadap kepada Nabi SAW, lalu kuceritakan kepada beliau perihal diriku itu, dan beliau SAW bersabda kepadaku, 'Kamu benar melakukannya?' Aku menjawab, 'Ya, aku benar melakukannya.' Beliau bertanya lagi, 'Kamu benar melakukannya?' Aku menjawab, 'Ya, aku telah melakukannya.' Beliau SAW bertanya lagi, 'Kamu benar melakukannya?' Aku menjawab, 'Ya, dan sekarang aku berserah diri kepada hukum Allah SWT Sanksi apa pun yang harus kuterima, maka aku dengan rela menerimanya.' Rasulullah SAW bersabda: 'Merdekakanlah seorang budak!' Maka aku memukul bagian belakang leherku dengan tanganku seraya berkata, 'Tidak, demi Tuhan yang mengutusmu dengan hak, aku tidak mempunyai apa pun selain istriku.' Rasulullah SAW bersabda: 'Berpuasalah selama dua bulan berturut-turut!' Aku menjawab, 'Wahai Rasulullah, tiada lain apa yang telah menimpa diriku itu melainkan karena puasa.' Rasulullah SAW bersabda: 'Maka bersedekahlah kamu!' Aku menjawab, 'Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan hak, sesungguhnya kami jalani malam hari kami tadi dalam keadaan lapar, karena kami tidak mempunyai makanan untuk makan malam kami.' Rasulullah SAW bersabda: 'Pergilah kamu kepada amil zakat orang-orang Bani Zuraiq, dan katakanlah kepadanya bahwa hendaknya dia memberimu zakat. Lalu berikanlah sebagian darinya sebanyak satu wasaq kurma untuk makan enam puluh orang miskin, kemudian lebihannya adalah untukmu dan orang-orang yang berada dalam tanggunganmu.' Aku pulang kepada kaumku dan kukatakan (kepada mereka), 'Aku menjumpai kesempitan dan pendapat yang buruk pada kalian, dan kujumpai pada Rasulullah SAW keluasan dan berkah. Sesungguhnya beliau telah memerintahkan kepadaku untuk mengambil zakat kalian, maka berikanlah zakat itu kepadaku.' Maka mereka memberikan zakatnya kepadaku."
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah, tetapi Imam Turmuzi meriwayatkannya dengan singkat dan ia menilainya hasan. Makna lahiriah konteks hadis ini menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi sesudah kisah Aus ibnus Samit dan istrinya (Khuwailah binti Sa'labah), sebagaimana yang tersimpulkan dari konteks hadis ini dan hadis yang sebelumnya setelah direnungkan secara mendalam.
Peristiwa Khaulah binti Dulaij
Khasif telah meriwayatkan dari Mujahid dan Ibnu Abbas, bahwa lelaki yang mula-mula men-zihar istrinya adalah Aus ibnus Samit, saudara lelaki Ubadah ibnus Samit. Istrinya bernama Khuwailah binti Sa'labah ibnu Malik. Disebutkan bahwa setelah suaminya men-zihar-nya, ia merasa takut bila zihar itu merupakan suatu talak, lalu ia mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Aus telah men-zihar-ku; dan sesungguhnya jika kami berceraikan, niscaya binasalah kami. Sesungguhnya telah kugelarkan perutku untuknya, dan dengan setia aku menemaninya." Khuwailah mengadukan hal tersebut seraya menangis, sedangkan wahyu masih belum ada yang menerangkan masalah tersebut. Maka Allah menurunkan firman-Nya: {#Sungguh, Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah.#} (Al-Mujadalah, [58:1]) sampai dengan firman-Nya: {#dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.#} (Al-Mujadalah, [58:4]) Maka Rasulullah SAW memanggil Aus ibnus Samit dan bersabda, "Mampukah kamu membeli seorang budak untuk kamu merdekakan?" Aus menjawab, "Tidak, demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak mempunyai kemampuan untuk itu." Maka Rasulullah SAW menghimpun dana untuknya hingga cukup untuk membeli budak, lalu budak yang telah dibeli itu dimerdekakan oleh Rasulullah SAW untuk kafarat Aus, setelah itu Aus kembali lagi kepada istrinya. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
Ibnu Abbas dan kebanyakan ulama berpendapat seperti apa yang telah kami kemukakan di atas; dan hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Makna Ayat Al-Mujadalah
Firman Allah SWT:
{اَلَّذِيْنَ يُظٰهِرُوْنَ مِنْكُمْ مِّنْ نِّسَاۤىِٕهِمْ}
{#Orang-orang yang men-zihar istrinya di antara kamu.#} (Al-Mujadalah, [58:2])
Kata zihar berasal dari zahar, artinya punggung. Dahulu di masa Jahiliah apabila seseorang dari mereka men-zihar istrinya, ia mengatakan kepada istrinya, "Engkau menurutku sama dengan punggung ibuku," yakni punggungnya sama dengan punggung ibunya. Kemudian menurut istilah syara' kata zihar ini bisa saja diberlakukan terhadap anggota tubuh lainnya secara analogi (kias). Dahulu di masa Jahiliah zihar dianggap sebagai talak, kemudian Allah SWT memberikan kemurahan bagi umat ini. Dia tidak menjadikannya sebagai talak, dan pelakunya hanya dikenai sanksi membayar kafarat, berbeda dengan apa yang berlaku di kalangan mereka di masa Jahiliah.
Peristiwa Khaulah binti Dulaij
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Abu Hamzah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu di masa Jahiliah apabila seorang lelaki berkata kepada istrinya, "Engkau menurutku sama dengan punggung ibuku," maka istrinya itu haram baginya. Dan orang yang mula-mula men-zihar istrinya di masa Islam adalah Aus. Saat itu istrinya adalah anak perempuan pamannya yang dikenal dengan nama Khuwailah binti Sa'labah. Di suatu hari ia men-zihar istrinya, lalu ia menyesali perbuatannya, dan berkata, "Menurutku dirimu tiada lain telah haram dariku," dan istrinya mengatakan hal yang sama.
Akhirnya Aus berkata kepada istrinya, "Pergilah kepada Rasulullah SAW" Maka istri Aus datang menghadap kepada Rasulullah SAW dan ia menjumpai di sisi Rasulullah SAW terdapat sisir yang beliau gunakan untuk menyisiri rambutnya Maka Rasulullah SAW bersabda, "Hai Khuwailah, Allah tidak memerintahkan sesuatu pun kepada kami sehubungan dengan kasusmu itu " Lalu Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Rasulullah SAW, dan Rasulullah SAW bersabda, "Hai Khuwailah, bergembiralah!" Khuwailah menjawab, "Semoga kebaikan saja adanya." Maka Rasulullah SAW membacakan ke
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.