Makna Kata الْمُحَادَّةُ
Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan tentang orang-orang yang menentang Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-nya, dan para ulama menjelaskan makna kata الْمُحَادَّةُ yaitu seperti orang-orang yang mengambil sikap oposisi (menentang), oleh karenanya para ulama ahli tafsir tatkala membawakan makna الْمُحَادَّةُ mereka membawakannya seperti makna firman Allah subhanahu wa ta'ala ذلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ {yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah subhanahu wa ta'ala}, yaitu menggunakan kata yang maknanya Allah subhanahu wa ta'ala berada di suatu sisi dan mereka berada di sisi yang lain, yaitu mereka menentang Allah subhanahu wa ta'ala.
Makna Ayat
Dan ayat ini disebutkan setelah penyebutan tentang hukum zhihar yang kemudian Allah subhanahu wa ta'ala akhiri ayat tersebut dengan firman-Nya {dan itu adalah batasan-batasan Allah subhanahu wa ta'ala}, maka orang yang tidak mengambil batasan-batasan Allah subhanahu wa ta'ala sama saja mereka seperti menentang Allah subhanahu wa ta'ala.
Penafsiran Al-Baydhowy
Al-Baydhowy berkata ketika menafsirkan ayat ini:
إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُعَادُوْنَهُمَا فَإِنَّ كُلاً مِنَ الْمُتَعَادِيَيْنِ في حَدٍّ غير حد الآخر، أو يضعون أو يختارون حدوداً غير حدودهما
“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya hakikatnya mereka memusuhi Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya, karena sesungguhnya setiap dua orang yang bermusuhan akan berada di suatu batasan selain batasan musuhnya. Atau mereka akan membuat atau memilih batasan-batasan (aturan-aturan) selain batasan-batasan (aturan-aturan) Allah dan Rasul-Nya.” (13)
Komentar Al-Alusy
Al-Alusy berkata ketika mengomentari penafsiran Al-Baydhowy:
وَعَلَى هَذَا فَفِيْهِ وَعِيْدٌ عَظِيْمٌ لِلْمُلُوْكِ وَأُمَرَاءِ السُّوْءِ الَّذِيْنَ وَضَعُوْا أُمُوْرًا خِلَافَ مَا حَدَّهُ الشَّرْعُ
“berdasarkan penafsiran Al-Baydhowy ini maka di dalamnya terdapat ancaman yang besar bagi para raja-raja dan pemimpin-pemimpin yang buruk yang mereka meletakan/membuat aturan-aturan yang menyelisihi aturan syariat Allah subhanahu wa ta'ala.” (14)
Ancaman Terhadap Raja-Raja dan Pemimpin-Pemimpin
Maka para raja-raja dan pemimpin-pemimpin yang buruk tersebut mendapatkan ancaman yang Allah subhanahu wa ta'ala sebutkan dalam firman-Nya إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا {Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan}, dan banyak penfsiran para ulama berkaitan dengan kata كُبِتُوا, ada yang menafsirkan dengan أُهْلِكُوا yaitu mereka dibinasakan, ada yang menfasirkan اخْزُوا dengan yaitu mereka dihinakan, dan ada juga yang menafsirkan dengan عُذِّبُوا yaitu mereka diadzab(15).
Peringatan Terhadap Orang-Orang yang Menentang
Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,
كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
“Sebagaimana kehinaan yang telah didapat oleh orang-orang sebelum mereka”
Ayat ini adalah sebuah peringatan yang sangat keras terhadap orang-orang yang menentang aturan-aturan Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya.
Penggunaan Fi’il Madhi
Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat ini menggunakan kata كُبِتُوا yang ini adalah fi’il madhi (past tense), sehingga ketika kita menerjemahkan firman-Nya إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا {Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya telah dibinasakan/dihinakan}, padahal hal tersebut belumlah terjadi, karena para ulama sepakat bahwa ayat ini adalah ayat ancaman tentang hukuman yang akan terjadi di masa depan bagi mereka yang menentang Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya, maka seharusnya tidak menggunakan fi’il madhi, karena fi’il madhi yang menunjukkan untuk sesuatu yang telah berlalu dan telah terjadi, dan seharusnya yang lebih tepat adalah menggunakan fi’il mudhori’ yang menunjukkan untuk sesuatu yang akan terjadi yaitu سَيُكْبَتُوْنَ (mereka akan dihinakan/disiksa/dibinasakan), namun dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menggunakan fi’il madhi كُبِتُوا(telah dibinasakan). Para ulama menjelaskan faedah dari penggunaan fi’il madhi tersebut adalah untuk menunjukkan bahwasanya hal tersebut مُتَحَقِّقُ الْوُقُوْع (pasti akan terjadi) sehingga seakan-akan telah terjadi(16).
Alasan Mengapa Mereka Berhak Mendapatkan Kehinaan
Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,
وَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ
“Dan sungguh, Kami telah menurunkan bukti-bukti yang nyata”
Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan alasan mengapa mereka berhak mendapatkan kehinaan/kebinasaan/siksaan di kemudian hari atau mengapa orang-orang yang sebelum mereka berhak mendapatkan kehinaan/kebinasaan/siksaan? Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan alasannya dalam firman-Nya وَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ {Dan sungguh, Kami telah menurunkan bukti-bukti yang nyata}, dan ini dalam bahasa arab i’rabnya adalah sebagai حَال (keadaan) dari kalimat sebelumnya كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ {sebagaimana kehinaan yang telah didapat oleh orang-orang sebelum mereka}, jadi Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan alasan mengapa mereka disiksa/dihina/diadzab adalah tidaklah mereka diadzab kecuali mereka sudah dalam keadaan Allah subhanahu wa ta'ala telah menurunkan ayat-ayat yang jelas bagi mereka sehingga tidak ada ‘udzur bagi mereka, sudah jelas penjelasan dari Allah subhanahu wa ta'ala yang telah disampaikan oleh para Rasul-Nya namun mereka tetap tidak mau beriman dan mereka tetap mereka menentang maka mereka akan dibinasakan.