Surah Al-Qalam
Perihal Surah Al-Qalam
Surah Al-Qalam merupakan surah Makkiyah (1), yaitu surah yang turun di awal-awal dakwah Nabi ﷺ ketika masih di Mekkah sebelum berhijrah ke Madinah. Sebagian ulama berpendapat bahwa surah Al-Qalam adalah surah kedua yang diturunkan kepada Nabi ﷺ setelah surah Al-‘Alaq (2). Akan tetapi sebagian ulama yang lain tidak sependapat dengan pendapat ini, mereka mengatakan Al-Qalam merupakan surah yang ketiga atau keempat, karena setelah surah Al-‘Alaq pendapat yang kuat adalah surah Al-Muddatstsir atau surah Al-Muzzammil. Intinya para ulama sepakat bahwasanya surah Al-Qalam adalah di antara surah-surah yang awal-awal turun tatkala Nabi ﷺ berdakwah.
Topik Surah Al-Qalam
Topik surah Al-Qalam adalah tentang pembelaan terhadap Nabi ﷺ. Berbeda dengan surah sebelumnya yaitu Al-Mulk yang topik pembicaraannya adalah tentang keagungan Allah ﷻ, maka surah Al-Qalam berkaitan tentang keagungan Nabi ﷺ di dunia maupun di akhirat. Surah ini diturunkan oleh Allah ﷻ untuk membela Nabi ﷺ yang dituduh oleh orang-orang musyrikin sebagai orang gila. Maka turunlah surah Al-Qalam ini untuk membela Nabi ﷺ dan menunjukkan tentang bagaimana agungnya beliau ﷺ.
Ayat Pertama Surah Al-Qalam
Allah ﷻ berfirman,
ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
“Nun, Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam : 1)
Lafal ن merupakan salah satu dari huruf Al-Muqatha’ah (huruf yang terputus-putus) Ayat-ayat seperti ini dibaca secara putus-putus per-hurufnya dan tidak langsung dibaca sebagai satu kata. Dan ayat-ayat seperti ini banyak terdapat di dalam Alquran(4). Di antaranya adalah الم yang dibaca alif lam mim, dan bukan dibaca alama. Di antaranya juga عسق yang dibaca ‘ain sin qaf, bukan dibaca ‘asaqa. Di antaranya juga يس yang dibaca yaa siin, bukan dibaca yass. Demikian pula dengan huruf ن dibaca nun dan bukan dibaca naa. Dan sebagaimana kita ketahui bahwasanya huruf tidak memiliki makna. Huruf bisa memiliki makna jika huruf tersebut telah dirangkai dengan huruf-huruf yang lain sehingga menjadi suatu kata. Oleh karenanya para ulama Ahli Tafsir berselisih pendapat tentang makna dan kandungan dari huruf-huruf Al-Muqatha`ah. Di antaranya adalah huruf ن dalam ayat ini. Sebagian para ulama da yang menafsirkannya dengan ikan paus(5), ada yang menafsirkan dengan tinta, dan seterusnya(6). Namun pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan dikuatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwasanya huruf-huruf Al-Muqatha’ah(7) tujuannya adalah untuk mengingatkan kaum musyrikin bahwa Alquran adalah mukjizat yang turun dengan bahasa mereka (Arab), dengan bahasa sehari-hari mereka, akan tetapi meskipun demikian mereka tidak sanggup mendatangkan yang semisal dengan Alquran. Padahal kata Allah ﷻ,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran berbahasa Arab, agar kamu mengerti.” (QS. Yusuf : 2)
Sumpah Allah ﷻ
Allah ﷻ bersumpah,
وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
“Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.”
Huruf و adalah cara bersumpah dalam bahasa Arab, yang dalam bahasa Indonesia kita sebut dengan “Demi”. Jika isim (kata benda) datang setelah huruf و dan isim tersebut dikasrahkan, maka akan menjadi bentuk sumpah sebagaimana dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan وَالْقَلَمِ (Demi Pena). Di antaranya juga Allah ﷻ mengatakan وَرَبِّكَ (Demi Tuhanmu), والشَّمسِ (Demi matahari), وَالنَّهَارِ (Demi siang), وَالَّيْلِ (Demi malam). Adapun kita tidak boleh bersumpah selain atas nama Allah ﷻ, karena bersumpah atas nama selain-Nya adalah kesyirikan. Adapun Allah ﷻ, Dia berhak bersumpah dengan makhluk yang Dia ciptakan, hal tersebut adalah hak Allah ﷻ.
Peran Pena dalam Islam
Pena (الْقَلَم) juga menjadi salah satu sarana untuk mengungkapkan. Makanya pena juga disebut dengan أَحَدُ اللِّسَانَيْنِ yang artinya salah satu dari dua lisan (12). Seseorang yang ingin mengungkapkan sesuatu maka dia akan mengungkapkannya salah satu dari satu dari dua cara yaitu dengan lisannya secara langsung atau melalui tulisannya. Oleh karena itu, syariat menilai bahwa hukum tulisan sebagaimana hukum lisan. Sebagaimana dengan ucapan seseorang bisa mengadakan akad, perjanjian, wasiat, atau jual beli, maka demikian pula hal tersebut bisa terjadi dengan tulisan. Ketika kita paham bahwa hukum tulisan sama dengan hukum ucapan (lisan), maka sebagaimana seseorang berhati-hati dalam berbicara maka demikian pula hendaknya dia berhati-hati dalam mengungkap dengan tulisan. Terutama di zaman ini dimana tulisan seseorang begitu mudahnya tersebar. Dan sebab tulisan itu adalah nikmat, maka hendaknya seseorang tidak menyalahgunakannya.
Tafsiran Kata الْقَلَمُ
Sebagian ulama memandang bahwa tafsiran kata الْقَلَمُ (pena) di ayat ini maksudnya adalah pena Allah ﷻ yang Allah ciptakan untuk menulis takdir di Al-Lauhul Mahfuzh(13). Sebagaimana dalam sebuah hadits, Nabi ﷺ bersabda,
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ
“Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan adalah pena, kemudian Allah berfirman, ‘Tulislah’. Pena berkata, ‘Apa yang harus aku tulis’. Allah berfirman, ‘Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya’.”(14)
Sumpah Allah ﷻ untuk Menekankan Perkataan
Allah ﷻ membuka surah Al-Qalam dengan sumpah. Dan tidaklah Allah bersumpah kecuali untuk menekankan sesuatu. Karena jika Allah ingin menekankan sesuatu, maka Allah membukanya dengan sumpah. Dan hal seperti banyak di dalam Alquran. Di antaranya Allah ﷻ berfirman,
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا، وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا، وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا، وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا، وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا، وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا، فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا، قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya (gelap gulita), demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan), demi bumi serta hamparannya, demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams : 1-9)
Perkataan Pertama Surah Al-Qalam
Allah ﷻ berfirman,
مَا أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ
“Dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila.” (QS. Al-Qalam : 2)