Makna Kisah Fir'aun dan Tsamud
Yakni: Apakah telah datang berita mereka kepadamu? Jawabannya: Ya Beritanya telah datang kepada Kami.
Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah menceritakannya kepada kita tentang fir'aun dan kaum tsamud, yang mengandung pelajaran bagi yang memiliki hati atau yang mendengarkannya sedangkan ia pun menyaksikannya. Kisah fir'aun telah Allah jelaskan dalam ayat-ayat yang banyak di beberapa surat, sebagai pembuka sebelum disebutkan Musa Alaihissalaam, sebagai mana diketahui juga bahwa Musa ‘alaihissalaam diutus kepada Bani Israil.
Allah Subhaanahu wa T’ala juga menceritakan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kisah-kisah Musa Alaihissalaam tidak seperti kisah nabi lainnya. Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan pergi berhijrah ke Madinah yang terdapat tiga suku yahudi. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengetahui banyak sekali berita tentang mereka tujuannya agar beliau benar-benar siap untuk berdialog dan menyanggah mereka dengan kebenaran, sehingga tidak ada perkara mereka yang tersembunyi sedikit pun dari beliau.
Siapa Firaun?
Sedangkan Fir’aun adalah raja mesir, apa firaun adalah sebutan bagi seorang raja yang bernama firaun atau penyebutan bagi raja mesir yang kafir? Di antara ulama ada yang mengatakan: Bahwa dia adalah nama panggilan seseorang. Yaitu bahwa orang yang Nabi Musa shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus kepadanya bernama fir’aun, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa fir’aun adalah sebutan bagi semua raja mesir yang kafir, sebagaimana disebut kisra bagi semua raja persia, hiraqla bagi semua raja romawi dab Najasi bagi semua raja habasyah, dan sebagainya.
Sifat Firaun
Fir’aun ini adalah raja yang angkuh, penentang lagi sombong, ia mengaku-ngaku sebagai tuhan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى “Akulah tuhanmu yang paling tinggi ”(QS. An-Nazi’at: 24) Ia pun juga mengaku-ngaku berhak disembah ketika dia berkata: مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي “aku tidak mengetahui sesembahan bagimu selain aku. ”(QS. AL-Qashahs: 38) Ia mengejek Musa ‘alaihissalaam juga menhina tanda-tanda (mukjizat)nya bahkan menantangnya, ia berkata secara lantang kepada Musa di depan mukanya: إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَى مَسْحُوراً “"Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir ”(QS. Al-Isra: 101) Ia juga berbangga-banggaan di hadapan Musa dan kaumnya, ia berkata pada mereka: وَنَادَى فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلا تُبْصِرُونَ أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلا يَكَادُ يُبِينُ فَلَوْلا أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ جَاءَ مَعَهُ الْمَلائِكَةُ مُقْتَرِنِينَ “Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)? Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya? “(QS. Az-Zukhruf: 51-53)
Hasil Firaun
Maka apa hasilnya? Hasilnya adalah ia kufur kepada Musa, dengan mengumpulkan orang-orang khusus untuk membuat tipu daya, mereka adalah penyihir-penyihir. Ketika penyihir-penyihir itu mengumpulkan semua kemampuan sihirnya, mereka datang untuk melawan Musa ‘alaihissalaam, di mana Musa ‘alaihissalaam datang membawa tanda-tanda (mukjizat) yang menyerupai sihir, namun sebenarnya bukanlah sihir, sebenarnya itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah ‘Azza Wa Jalla.
Kisah Penyihir
Yaitu dia meletakan tongkat yang ia bawa ke tanah maka jadilah seekor ular yang berjalan, dan ia mengumpulkan penyihir-penyihir itu di tempat yang rata: فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسِحْرٍ مِثْلِهِ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِداً لا نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلا أَنْتَ مَكَاناً سُوَىً “Dan kamipun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya). ”(QS. Toha: 58) Maksudnya di tempat yang luas rata sehingga dapat disaksikan oleh orang banyak yang menyaksikan atraksi sihir dan keahlian penyihir-penyihir.
Lalu Musa berkata kepada mereka: قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحىً “Berkata Musa: "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari zinah (perhiasan) dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik ”(QS. Thoha: 59) Hari Zinah adalah ahari raya mereka, yaitu hari dimana banyak orang yang berkumpul untuk saling mengucapkan salam satu sama lain. Mereka berkumpul di waktu yang ditentukan dan tempat yang disepakati, mereka mengumpulkan orang-orang di waktu duha (pagi) awal waktu siang.
Akhir Penyihir
Para penyihir itu melemparkan tongkat dan tali yang mereka bawa dengan tangan mereka, orang-orang yang hadir pun tersihir sehingga mereka berkhayal seolah-olah tongkat dan tali tersebut seperti ular yang berjalan, seketika timbulah dala hati Musa rasa takut, karena ia menyaksikan perkara besar dan tipu daya yang besar. Allah ‘Azza Wa jalla pun mewahyukan kepada Musa agar ia melemparkan tongkatnya. Maka Musa melemparkan tongkatnya, maka tongkat Musa yang menjadi ular itu menelan pertunjukkan penyihir-penyihir itu. Seketika itu juga. Penyihir-penyihir itu menyadari bahwa yang dibawa Musa adalah kebenaran dan bukan sihir, karena jikalau Musa benar-benar penyihir maka tidak mungkin ia dapat mengalahkan mereka dengan sihirnya. Maka penyihir-penyihir itu langsung beriman kepada Musa ‘alaihissalaam, dan kafir kepada Fir’aun yang melampaui batas, mereka mengatakan : آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ “Kami Beriman kepada Rabb alam semesta” (QS. Asy-Syu’ara: 47) Mereka berhenti di hadapan wajah firaun, mereka menentangnya dan mereka berpaling darinya.
Akhir Firaun
Kesudahan itu Allah menenggelamkan Fir’aun di air yang dulunya ia berbangga-bangga dengannya kemarin.
Kisah Tsamud
Sedangkan kaum Tsamud: Allah Ta’ala telah memberikan mereka kuasa dan kekeuatan sampai sampai mereka mengukir gunung-gunung yang mereka jadikan rumah-rumah dengan giat dan membangun datarannya menjadi istana-istana, ketika mereka mendustakan rasulnya, Nabi Shaleh ‘alaihissalaam, maka Allah membinasakan mereka dengan guncangan dan petir (suara yang memekakkan telinga), mereka binasa seketika juga, mereka pun menjadi mayat-mayat di kampung-kampung mereka.
Faidah Kisah Firaun dan Tsamud
Terdapat dua faedah dari kisah fir’aun dan Tsamud: Pertama: Menghibur dan meneguhkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, san yang menolong rasul-rasul-Nya sebelumnya maka ia akan ditolong dan dimenangkan. Tidak diragukan lagi bahwa ini akan mengokohkan tekad dan membangkitkan semangat dalam berdakwah kepada Allah dalam menyamkaikan risah-Nya.
Faedah yang kedua: Ancaman dan peringatan keras kepada kaum Quraisy yang telah mendustakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan berusaha menentangnya, dan mereka bukanlah orang-orang yang lebih kuat daripada Firaun dan Tsamud, walau pun mereka kuat, mereka tetap tertimpa kebinasaan dan kalimat azab terwujud pada mereka.