Makna Kata "Kafir"
Kemudian Allah subhaanahu berfirman: بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي تَكْذِيبٍ “Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, ”
Maknanya: Sesungguhnya mereka orang-orang yang kufur kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam mereka dalam pendustaan, seakan-akan mereka tenggelam dalam pendustaan, pendustaan meliputi (jiwa) mereka dari segala sisi, makna ini lebih mendalam dibandingkan dengan jika dikatakan: ( بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُكَذِّبُون )
Sesungguhnya orang-orang kafir itu mendustakan (QS. Al-Insyqaq: 22), dalam konteks ayat ini dan terkadang dalam konteks lain, يُكَذِّبُون "mendustakan” maknanya bisa lebih mendalam. Karena terkadang Al-Quran datang dengan dua susunan kata yang berbeda (dalam beberapa ayat) dan setiap keduanya bisa bermakna lebih mendalam di setiap tempat (surat) yang berbeda.
Orang-orang Kafir
Orang-orang kafir di sini mencakup setiap orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya baik itu dari kalangan orang-orang musyrik maupun yahudi dan nasrani, itu dikarenakan yahudi dan nasrani saat ini, setelah diutusnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidaklah di atas agama yang diridhai Allah, agama-agama mereka tidak bermanfaat bagi mereka, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, maka siapa saja yang tidak beriman kepadanya maka dia tidak memperoleh apa pun dari agamanya, bahkan orang yang tidak beriman kepada satu rasul saja maka ia telah kafir juga kepada semua rasul, misalnya orang yang tidak beriman bahwa Nuh adalah seorang Rasul, walau pun ia beriman kepada rasul-rasul selainnya maka ia telah mendustakan rasul-rasul yang lain juga.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala: كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. ”(QS. Asy-Syu’ara: 105) dalam ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan bahwa kaum Nuh mendustakan beberapa rasul padahal mereka belum berjumpa kecuali dengan rasul mereka, yaitu Nuh ‘alaihissalaam, begitu juga orang yang mendustakan Muhammad maka ia juga telah mendustakan rasul-rasul dan nabi-nabi Allah lainnya.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani
Jika yahudi mengaku-ngaku di atas agama dan mereka mengikuti taurat yang dibawa oleh Musa, maka kita katakan kepada mereka: Mereka adalah orang-orang kafir juga kepada Musa ‘alaihissalaam, kafir juga kepada taurah, dan jika orang-orang nasrani yang sekara menamai diri mereka dengan pengikut al-masih mengaku bahwa mereka beriman kepada Isa ‘alaihissalam, maka kita katakan kepada mereka, kalian kafir kepada Isa karena kalian kafir kepada Muhammad ‘alaihissholaatu wassalaam.
Anehnya, orang-orang yahudi dan orang-orang nasrani mereka semua kafir (tidak mengakui kerasulan) Muhammad ‘alaihissholaatu wassalaam padahal mereka semua telah mendapatkannya tertulis di kitab mereka, taurat dan injil, bahwa Muhammad memerintahkan mereka kepada kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran, dan menghalalkan yang baik-baik juga mengharamkan yang buruk bagi mereka, dan meringankan beban mereka juga belenggu-belenggu yang membebani mereka, mereka semua mengenal Muhammad seperti mereka mengenali anak-anak mereka. Tetapi penentangan keangkuhan dan iri telah menghalangi mereka untuk beriman kepada Muhammad ‘alaihissholaatu wassalaam:
وَدَّ كَثِيْرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيْمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran ”(QS. Al-Baqoroh: 109)
Kesimpulan
Kesimpulannya: Bahwa firman Allah Ta’ala: بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي تَكْذِيبٍ “Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, ” Mencakup semua yang kufur kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam termasuk Yahudi dan Nasrani, oleh karena itu Nabi shallallaah ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya tidaklah mendengar tentangku dari umat ini (umat dakwah) baik yahudi mau pun nasrani kemudian dia tidak beriman kepada yang aku datang dengannya (berupa wahyu) melainkan ia menjadi penghuni neraka ”(1)
(1) Dikeluarkan Muslim (153) dari hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu