Makna Perbedaan dan Perselisihan
Dan tidaklah mereka kaum Yahudi dan Nasrani yang diturunkan kepada mereka kitab berselisih dan tidak pula terlepas dari kebodohan mereka, melainkan telah datang kepada mereka bukti yang nyata, Allah - عز وجل - telah menurunkan Taurat dan Injil dan mengutus kepada mereka Rasul sebagai penjelas dan pemberi peringatan, tetapi mereka tetap berada di atas perselisihan dan kebodohan, ha litu dikarena mereka mengikuti hawa nafsu dan tidak ikut kepada kebenaran yang tertulis dalam kitab Allah ﷻ .
Perpecahan di Kalangan Yahudi dan Nasrani
Yahudi dan Nasrani tidak menjadikan kitab Taurat dan Injil sebagai pedoman mereka, dan mereka terus berjalan di bumi dengan kebodohan mereka, dan Rasulullah ﷺ bersabda : (( افترقت اليهود على إحدى و سبعين فرقة ، فواحدة في الجنة و سبعين في النار ، و افترقت النصارى على اثنين و سبعين فرقة فواحدة في الجنة و إحدى و سبعين في النار ، و الذي نفسي بيده لتفترقن أمتي على ثلاث و سبعين فرقة ، فواحدة في الجنة و ثنتين و سبعين في النار ، قيل يا رسول الله من هم ؟ قال : هم الجماعة )) “Yahudi telah berpecah-belah menjadi 71 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh di Neraka, dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh satu di Neraka, dan demi yang jiwaku di tangan-Nya sungguh ummatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh dua di Neraka, dikatakan “Wahai Rasul ALLAH siapa mereka itu?”, beliau berkata: “Mereka adalah al-Jama’ah.”” (HR Ibnu Majah : 3992 , dari hadits Ibnu Umar, dan Shahihkan oleh Al-Albani dalam kitabnya “Shahihul Jami” : 1492 ) , dalam riwayat lain dikatakan : ((هم من كان على مثل ما أنا عليه اليوم و أصحابي )) “Mereka adalah orang yang berada di atas ajaran yang sama dengan ajaranku pada hari ini, dan para sahabatku.” [ HR. Turmudzi : 2641 , dari hadits Ibnu Umar , dan Shahihkan oleh Al-Albani dalam kitabnya “Shahihul Jami” : 5343 ] , dan inilah yang disebut “Firqoh Najiyah” golongan yang selamat.
Larangan Perselisihan
Allah ﷻ telah melarang kita dari perselisihan sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nashrani berselisih, Allah ﷻ berfirman : { وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ } ( Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat ) [ Ali Imran : 105 ] , perselisihan dan perbedaan pandangan adalah tabiat manusia, apalagi dalam perkara “Ijtihad, Istinbat,” dalam menentukan hukum tertentu dalam syari’at banyak terjadi di kalangan Ahli Ilmu, akan tetapi perkara ini dapat diselesaikan dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi ﷺ , maka barangsiapa berada di atas dalil yang benar perkataannya lah yang diambil, dan barangsiapa yang menyelisihi dalil ditinggalkan, Allah - عز وجل - berfirman : {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا } ( Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya ) [ An Nisa : 59 ] , dan kembali kepada Allah dan Rasul-Nya yakni kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, semasa hidup Rasulullah maka permasalahan yang dihadapi oleh ummatnya kembali kepadanya, sedangkan setelah kematian beliau hukum suatu permasalahan syari’at dikembalikan kepada sunnah-sunnah yang beliau tinggalkan.
Perbedaan Pendapat di Kalangan Kaum Muslimin
Perbedaan pendapat yang kerap terjadi di antara kaum muslimin harus disandarkan kepada dalil-dali yang benar sesuai Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, dari perbedaan itu perkara yang disetujui oleh Al-Qur’an dan Sunnah maka itulah yang benar, sedangkan perkara yang melanggar Al-Qur’an dan Sunnah maka perkara adalah itu salah.
Kebathilan Perselisihan
Dan zaman sekarang ini bermunculan beberapa pendakwah yang menyampaikan fatwa nya di beberapa media massa, mereka mengatakan bahwasanya perbedaan dan perselisihan adalah rahmat, dan sesungguhnya agama ini luas, ambil lah pendapat apapun dari fatwa seorang 'alim yang kamu sepakat dengannya; hal ini termasuk memudahkan agama dengan nafsu, dan ini adalah kebathilan, perbedaan dan perselisihan pendapat dianyata ulama memang ada, begitupun dengan ijtihad, akan tetapi seseorang tidak diperbolehkan memutuskan untuk mengambil apapun dari pendapat tersebut yang menyalahi dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah, atau ijtihad dari seorang 'alim yang disepakati hukumnya oleh semua ulama atau sebagian besar dari mereka. Adapun mengambil hukum dari hawa nafsu, dan meninggalkan apa yang sesuai dengan dalil karena tidak sesuai dengan hawa nafsu kita; maka cara ini adalah cara yang dipakai oleh Yahudi dan Nashrani, Allah ﷻ berfirman : { اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ } ( Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah ) [ At Taubah : 31 ] , mereka menghalalkan apa yang sebenarnya itu haram, dan mengharamkan apa yang halal dalam syari'at. Yahudi dan Nashrani adalah orang-orang yang sering melakukan perselisihan dan perbedaan sejak dulu kala, maka tidak menjadi hal yang menakjubkan jikalau mereka berlepas diri syari'at Muhammad dan selalu membedakan diri mereka darinya, hal itu dikarenakan mereka mengikuti hawa nafsu, Allah ﷻ berfirman : { فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ } ( Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim ) [ Al-Qashash : 50 ] .