Makna Kata
Orang yang beriman ini berkata kepada temannya yang kafir: saya tidak sama dengan engkau, dan saya tidak berbuat kesyirikan seperti engkau, apa yang kau lakukan ini adalah kesyirikan. Seakan-akan orang yang beriman ini mengatakan bahwa kawannya tersebut adalah kafir dan musyrik. Timbul pertanyaan, dari sisi mana orang ini dikatakan musyrik? Maka ada beberapa pendapat di kalangan ulama:
Pendapat Pertama
Pendapat pertama: mengatakan syirik dan kufur tidak ada bedanya( 137). Terkadang kalimat syirik maksudnya kufur dan terkadang kalimat kufur maksudnya adalah syirik sebagaimana yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sabdakan,
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ
“barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka sungguh dia telah kafir atau musyrik.” (138 )
Dalam hadits yang lain
لَيْسَ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ أَوْ بَيْنَ الْكُفْرِ إِلَّا تَرْكُ الصَّلَاةِ
“tidak ada pembeda antara seorang hamba dengan kesyirikan atau kekufuran kecuali meninggalkan shalat.” (139 )
Jadi dalam banyak dalil terkadang kufur sama dengan syirik meskipun kalau kita berbicara secara bahasa bahwasanya kekufuran lebih umum. Kekufuran ada yang berupa kesyirikan (artinya menyekutukan Allah subhanahu wa ta'ala) seperti menyembelih kepada selain Allah, meminta kepada selain Allah, berdoa kepada selain Allah, dan percaya kepada dukun. Ada juga kekufuran yang lain yang bukan kesyirikan misalnya mengaku sebagai nabi, tidak beriman kepada nabi Muhammad, tidak beriman dengan hadits, atau menghina syariat Islam. Walaupun dia tidak beribadah kecuali kepada Allah subhanahu wa ta'ala namun jika melakukan perbuatan tersebut maka dia kufur. Jadi terkadang makna syirik lebih khusus dari kufur namun terkadang dalam beberapa hadits makna kufur sama dengan kesyirikan.
Pendapat Kedua
Sebagian ulama mengatakan bahwasanya makna firman Allah subhanahu wa ta'ala tentang perkataan pemuda ini: “aku tidak berbuat syirik seperti engkau yang berbuat syirik” maknanya adalah engkau kafir karena engkau menolak adanya hari kebangkitan.
Pendapat kedua: lelaki tersebut musyrik karena dia menyangka Allah subhanahu wa ta'ala tidak bisa membangkitkan manusia. Tatkala dia menuduh Allah subhanahu wa ta'ala tidak bisa membangkitkan manusia berarti dia menyifati Allah subhanahu wa ta'ala dengan ketidakmampuan. Ketika dia menyifati Allah dengan tidak memiliki kemampuan maka dia telah menyamakan Allah subhanahu wa ta'ala dengan manusia yang tidak memiliki kemampuan. Dari sisi inilah dia telah terjerumus ke dalam kesyirikan yaitu menyamakan manusia yang tidak mampu dengan Allah subhanahu wa ta'ala yang dia anggap tidak memiliki kemampuan.
Pendapat Ketiga
Pendapat ketiga: yang dimaksud dia musyrik yaitu dia memandang bahwasanya kekayaan dan kemiskinan bukan urusan Allah subhanahu wa ta'ala sehingga dia berkata bahwa kebunnya tidak akan punah selama-lamanya dan aku akan senantiasa kaya. Dia lupa bahwasanya yang mengatur kekayaan dan kemiskinan adalah Allah subhanahu wa ta'ala. Dari sisi inilah dia telah berbuat syirik yaitu ketika dia menganggap bahwasanya kekayaan dan kemiskinan berjalan dengan sendirinya tanpa campur tangan Allah subhanahu wa ta'ala dan menyangka ada yang berjalan di luar kendali Allah subhanahu wa ta'ala.(140 )
Inilah beberapa pendapat di kalangan ulama yang menjelaskan mengapa lelaki tersebut disifati dengan musyrik.
Makna Firman Allah
Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala
هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا
“Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.”
Terdapat sebuah zikir yang datang dalam sebuah hadits yang hasan ketika mendapati dalam sebuah keadaan yang sulit maka dianjurkan mengucapkan doa ini,
اللهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Allah Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukannya dengan sesuatu pun” (141 )
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan seseorang yang sedang dalam kondisi berat untuk membaca doa ini. Yaitu dengan mengucapkan doa ini maka dia sedang bertawassul dengan tauhid, hadits datang dalam riwayat imam Ahmad dengan sanad yang hasan dengan berbagai lafal, dalam sebagian riwayat datang dengan lafal,
اللَّهُ، اللَّهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Allah Allah Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukannya dengan sesuatu pun” (142 )
Dalam riwayat lain doa ini diucapkan sebanyak tujuh kali(143 ). Doa ini maknanya mirip dengan perkataan lelaki yang beriman tersebut tatkala dia berdialog dengan kawannya yang kafir.