Firman-Nya
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ
“Maka Maha Tinggi Allah ﷻ Raja Yang sebenar-benarnya.”
Yaitu : Maha tinggi Allah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Maha tinggi al-Malik yaitu Dialah Raja yang sesungguhnya berbeda dengan raja-raja dunia yang bukan raja sesungguhnya. Serta maha tinggi al-Haqq الْحَقُّ (Allah ﷻ maha benar). Di antara nama-nama Allah ﷻ adalah الْحَقُّ, dan seseorang boleh menamakan anaknya dengan Abdul Haq. الْحَقُّ artinya maha benar dalam segala-galanya, apa yang Allah ﷻ ucapkan adalah benar. Apa yang Allah ﷻ takdirkan adalah benar, apa yang Allah ﷻ turunkan atau syariatkan adalah benar, nabi yang Allah ﷻ utus adalah benar, dan semua yang berkaitan dengan Allah ﷻ adalah kebenaran. (200 )
Ketika Allah menggandengkan الْمَلِكُ الْحَقُّ al-Malik dengan al-Haqq
Maknanya Allah adalah Raja Pemilik segalanya secara haq, berbeda dengan makhluk yang tidak memilik hak milik secara sepenuhnya, terkadang mereka memiliki sesuatu yang sebelumnya mereka tidak miliki dan terkadang miliknya berpindah kepada orang lain. Yang memiliki dengan hak milik sepenuhnya hanya Allah ﷻ. Demikian juga kekuasaan Allah sebagai Raja sempurna, semua keputusanNya lah yang berlaku dalam kerajaanNya, tidak ada ketundukan kepada siapapun, justru semua yang tunduk kepadaNya. Lain halnya dengan raja-raja dunia yang kekuasannya tidak sempurna dan terkadang harus tunduk dengan kondisi, atau arahan menteri-menterinya atau pakasaan rakyatnya. Demikian juga makna Raja yang Haq, adalah semua tindakan Allah dalam kerajaanNya adalah benar sesuai dengan hikmah tidak ada yang salah dalam keputusan Allah. Berbeda dengan raja-raja dunia yang sering salah dalam mengambil keputusan dan tidak hikmah serta zalim dalam bertindak.(201 )
Begitu juga Allah ﷻ adalah raja dengan sebenar-benarnya raja oleh karenanya pada hari kiamat Allah ﷻ berkata,
أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ
“Akulah Sang Raja, mana yang mendakwakan diri raja-raja bumi?" (202 )
Raja-raja di dunia yang sombong ketika di akhirat tidak ada satupun yang berani untuk berbicara.
Firman-Nya
وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ
“dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu.”
Allah ﷻ memerintahkan agar Nabi Muhammad ﷺ tidak tergesa-gesa hingga wahyu tersebut selesai disampaikan. Ini berkaitan dengan ayat pada surah Al-qiyamah,
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.” (QS. Al-Qiyamah16)
Ketika malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu maka Nabi ﷺ takut lupa terhadap wahyu yang disampaikan. Sehingga ketika Jibril mengucapkan wahyu yang akan disampaikan Nabi ﷺ juga ikut mengikuti dalam pengucapannya. Beliau menginginkan agar bisa hafal apa yang disampaikan. Sehingga hilang rasa khawatirnya ketika Jibril pergi setelah selesai menyampaikan wahyu tersebut karena dia telah menghafalnya. Maka Allah ﷻ pun menegurnya, Allah ﷻ memerintahkannya untuk tidak mengikuti karena Allah ﷻ telah menjaminnya, Allah ﷻ berfirman,
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (QS. Al-Qiyamah 17-19)
Kemudian Allah ﷻ menutup ayatnya dengan firman-Nya
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan".”
Ini merupakan ayat yang menunjukkan akan kemuliannya ilmu. Seakan-akan Allah ﷻ menegur Nabi-Nya dengan cara lembut. Allah ﷻ maha tahu ketika malaikat Jibril mendiktekan wahyu Nabi ﷺ akan mengikutinya dengan lisannya. Ini dikarenakan semangatnya Nabi ﷺ dalam menuntut ilmu, namun cara tersebut salah oleh karenanya Allah ﷻ menegurnya. Yang benar adalah dengan berdoa kepada Allah ﷻ agar diberi tambahan ilmu yang bermanfaat. Ini seperti kisah Abu Bakroh yang dia ikut rukuk imam dari belakang yang jauh kemudian dia masuk ke dalam shaff. Ini adalah cara yang salah sehingga Rasulullah menegurnya dan mengatakan,
«زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ»
“semoga Allah ﷻ menambahmu semangat dan jangan kau ulangi lagi.” (203 )
Maka begitu juga halnya dengan kisah Nabi yang Allah ﷻ tegur agar jangan tergesa-gesa dan Allah ﷻ memerintahkannya untuk berdoa meminta ilmu dari Allah ﷻ. Setelah itu Nabi berdoa kepada Allah ﷺ meminta ilmu, di antara doa-doanya,
اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا
“ya Allah jadikanlah ilmu yang kau ajarkan kepadaku bermanfaat, ajarkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat, dan tambahkanlah aku ilmu.” ( 204)
Begitu juga doa yang sering beliau ucapkan setelah shalat subuh,
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.” (205 )
Dan tidaklah Nabi ﷺ pernah diperintahkan untuk meminta sesuatu tambahan kecuali ilmu(206 ) sebagaimana yang Allah ﷻ firmankan dalam ayat ini,
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan".
Setelah Allah ﷻ kisahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ tentang kisah Nabi Musa ‘alaihissalam bersama kaumnya, maka di akhir kisah Allah ﷻ kemudian berfirman kepada Nabi ﷺ,
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah, Ya Rabbku tambahkanlah aku ilmu” (QS. Thaha : 114)
Sebagian ahli tafsir(207 ) menafsirkan bahwasanya Allah tambahkan lagi ilmu kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan mengabarkan kepada Nabi tentang kisah orang-orang terdahulu. Namun kali ini kisah yang dikabarkan oleh Allah ﷻ adalah kisah tentang nenek moyang manusia yaitu Adam ‘alaihissalam dan juga nenek moyangnya setan yaitu iblis. Bagaimana kisah mereka berdua?