Firman Allah SWT
{يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ}
{#Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi.#} (Al-Hujurat, [49:2])
Etika Lainnya
Ini merupakan etika lainnya yang melaluinya Allah mendidik hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka jangan meninggikan suaranya di hadapan Nabi SAW lebih tinggi daripada suaranya.
Sebuah Riwayat
Menurut suatu riwayat, ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang syekh, yakni Abu Bakar dan Umar.
Imam Bukhari
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Busrah ibnu Safwan Al-Lakhami, telah menceritakan kepada kami Nafi' ibnu Umar, dari Ibnu Abu Mulaikah yang mengatakan bahwa hampir saja kedua orang yang terbaik binasa (yaitu Abu Bakar dan Umar) karena keduanya meninggikan suaranya di hadapan Nabi SAW di saat datang kepada beliau kafilah Bani Tamim.
Ibnu Zubair RA
Ibnuz Zubair RA mengatakan bahwa sesudah turunnya ayat ini Umar RA tidak berani lagi angkat bicara di hadapan Rasulullah SAW melainkan mendengarnya lebih dahulu sampai mengerti.
Imam Bukhari
Kemudian Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Mulaikah, bahwa Abdullah ibnuz Zubair RA pernah menceritakan kepadanya bahwa pernah datang iringan kafilah dari Bani Tamim kepada Nabi SAW Maka Abu Bakar RA berkata, "Angkatlah Al-Qa'qa' ibnu Ma'bad sebagai pemimpin mereka" Dan Umar RA berkata, "Angkatlah Al-Aqra' ibnu Habis sebagai pemimpin mereka."
Imam Bukhari
Maka Abu Bakar RA berkata, "Tiada lain tujuanmu hanya menentangku." Umar berkata, "Aku tidak bermaksud menentangmu." Akhirnya keduanya perang mulut hingga suara mereka gaduh di hadapan Nabi SAW Maka turunlah firman Allah SWT: {#Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.#} (Al-Hujurat, [49:1]) sampai dengan firman Allah SWT: {#Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka.#} (Al-Hujurat, [49:5]), hingga akhir ayat.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Umar, dari Mukhariq, dari Tariq ibnu Syihab, dari Abu Bakar As-Siddiq RA yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: {#Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi.#} (Al-Hujurat, [49:2]) Aku (Abu Bakar) berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah, aku tidak akan berbicara lagi kepadamu melainkan dengan suara yang rendah (pelan).
Imam Bukhari
Husain ibnu Umar sekalipun predikatnya daif, tetapi hadis ini telah kami kemukakan pula melalui riwayat Abdur Rahman ibnu Auf dan Abu Hurairah RA dengan lafaz yang semisal; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Imam Bukhari
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Azar ibnu Sa'd, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Anas, dari Anas ibnu Malik RA, bahwa Nabi SAW kehilangan Sabit ibnu Qais RA Maka seorang lelaki berkata, "Wahai Rasulullah, saya mengetahui di mana ia berada."
Imam Bukhari
Lalu lelaki itu mendatanginya, dan menjumpainya di rumahnya sedang menundukkan kepalanya. Maka lelaki itu bertanya kepadanya, "Mengapa kamu?" Ia menjawab, bahwa dirinya celaka karena telah meninggikan suaranya di hadapan Nabi SAW lebih dari suara Nabi SAW Dan ia beranggapan bahwa amal baiknya telah dihapuskan, maka dia termasuk ahli neraka.
Imam Bukhari
Lelaki itu kembali kepada Nabi SAW dan menceritakan kepada beliau apa yang dikatakan oleh orang yang dicarinya itu, bahwa dia telah mengatakan anu dan anu. Musa ibnu Anas melanjutkan kisahnya. bahwa lalu felaki itu kembali menemuinya seraya membawa berita gembira dan Nabi SAW yang telah bersabda: "Kembalilah kamu kepadanya dan katakanlah kepadanya, "Sesungguhnya engkau bukan ahli neraka, tetapi engkau adalah termasuk ahli surga."
Imam Ahmad
Imam Ahmad mengatakan telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Sulaiman Ibnul Mughirah, dari Sabit, dari Anas Ibnu Malik RA yang mengatakan bahwa ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman Allah SWT: {#Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi.#} (Al-Hujurat, [49:2]) sampai dengan firman-Nya: {#sedangkan kamu tidak menyadari.#} (Al-Hujurat, [49:2]) Tersebutlah bahwa Sabit ibnu Qais ibnu Syammas seorang yang memiliki suara yang keras.
Imam Ahmad
Maka ia berkata, "Akulah yang sering meninggikan suaraku diatas suara Rasulullah SAW Maka aku termasuk ahli neraka, Semua amalku dihapus." Lalu ia duduk di tempat tinggal keluarganya dengan hati yang sedih dan tidak mau keluar lagi.
Imam Ahmad
Maka Rasulullah SAW merasa kehilangan dia, lalu sebagian orang berangkat menemuinya di rumahnya. Mereka berkata kepadanya bahwa Rasulullah SAW merasa kehilangan dia, dan mereka menanyakan mengenai penyebabnya.
Imam Ahmad
Sabit ibnu Qais menjawab, "Akulah orang yang sering meninggikan suaraku di atas suara Nabi SAW dan aku sering berkata dengan suara yang keras kepada beliau; maka semua amalku dihapuskan dan aku termasuk ahli neraka."
Imam Ahmad
Lalu mereka kembali kepada Nabi Saw dan menceritakan kepadanya apa yang telah dikatakan olehSabit ibnu Qais. Maka Nabi SAW bersabda: "Tidak, bahkan dia termasuk penghuni surga."
Imam Muslim
Imam Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Musa telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit Al-Bannani, dari Anas ibnu malik RA yang mengatakan bahwa setelah ayat berikut diturunkan, yaitu firman Allah SWT: {#Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi.#} (Al-Hujurat, [49:2]), hingga akhir ayat.
Imam Muslim
Sabit RA mengurung diri di dalam rumahnya, dan mengatakan "Aku termasuk ahli neraka," dan ia tidak lagi mau keluar menemui Nabi SAW. Maka Nabi SAW bertanya kepada Sa'd ibnu Mu'az, "Hai Abu Amr ke mana Sabit, apakah dia sakit?"
Imam Muslim
Sa'd RA menjawab, "Dia memang tetanggaku, tetapi aku tidak mengetahui bahwa dia sedang sakit." Lalu Sa'd RA mendatanginya dan menceritakan kepadanya perkataan Rasulullah SAW Maka Sabit RA mengatakan, "Ayat ini telah diturunkan, dan seperti yang telah kamu ketahui bahwa aku adalah orang yang paling tinggi nada suaranya di antara kalian melebihi suara Nabi SAW Karena itu, aku adalah ahli neraka."
Imam Muslim
Sa'd RA menceritakan kepada Nabi SAW apa yang dikatakan oleh Sabit itu. Maka Rasulullah SAW bersabda: Tidak, bahkan dia termasuk ahli surga.
Ibnu Jarir
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepada kami Abu Sabit ibnu Sabit ibnu Qais ibnu Syammas, telah menceritakan kepadaku pamanku Ismail ibnu Muhammad ibnu Sabit ibnu Qais ibnu Syammas, dari ayahnya yang mengatakan bahwa setelah ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: Janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras. (Al-Hujurat, [49:2]) Maka Sabit ibnu Qais RA duduk di pinggir jalan seraya menangis.
Ibnu Jarir
Lalu lewatlah kepadanya Asim ibnu Addi, dari Bani Ajlan dan bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menangis, hai Sabit?" Sabit RA menjawab, "Ayat inilah yang membuat aku takut, bilamana ia diturunkan berkenaan dengan diriku, karena aku adalah orang yang tinggi suaranya."
Ibnu Jarir
Asim ibnu Addi RA melanjutkan perjalanannya menemui Rasulullah SAW Tangisan Sabit semakin menjadi-jadi, lalu ia mendatangi istrinya (Jamilah binti Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul) dan berkata, "Jika aku masuk kamarku, maka gemboklah pintunya dari luar dengan paku."
Ibnu Jarir
Maka istrinya melaksanakan apa yang diperintahkan suaminya itu, lalu Sabit berkata, "Aku tidak akan keluar hingga Allah mewafatkan diriku atau Rasulullah SAW meridaiku."
Ibnu Jarir
Asim RA datang kepada Rasulullah SAW, lalu menceritakan kepadanya apa yang dialami oleh Sabit. Maka beliau SAW bersabda, "Pergilah kepadanya dan undanglah dia untuk datang kepadaku."
Ibnu Jarir
Asim RA datang ke tempat ia menemui Sabit, tetapi ia tidak menjumpainya. Lalu ia datang ke rumah keluarga Sabit, dan ia menjumpainya berada di dalam kamar sedang mengunci dirinya, lalu ia berkata kepadanya bahwa Rasulullah SAW memanggilnya.
Ibnu Jarir
Maka Sabit berkata, "Patahkan saja kuncinya."
Ibnu Jarir
Lalu keduanya berangkat menuju rumah Nabi SAW Sesampainya di hadapan Nabi SAW, beliau bertanya kepadanya, "Apakah yang menyebabkan kamu menangis, hai Sabit?" Sabit menjawab, "Saya orang yang tinggi suaranya, dan saya merasa khawatir bila ayat ini diturunkan berkenaan dengan diri saya," maksudnya adalah firman Allah SWT: {#Janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras.#} (Al-Hujurat, [49:2])
Ibnu Jarir
Maka Nabi SAW bersabda kepadanya: Tidakkah kamu puas bila kamu hidup dalam keadaan terpuji, gugur sebagai syuhada, dan masuk ke dalam surga? Lalu Sabit menjawab, "Aku rela dengan berita gembira dari Allah SWT dan Rasul-Nya, dan aku tidak akan meninggikan suaraku lagi selamanya lebih dari suara Rasulullah SAW"
Ibnu Jarir
Kemudian Allah SWT menurunkan firman-Nya: {#Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa.#} (Al-Hujurat, [49:3]), hingga akhir ayat.
Muslim
Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amirul Mu'minin Umar ibnul Khattab RA bahwa ia mendengar suara dua orang lelaki di dalam Masjid Nabawi sedang bertengkar hingga suara keduanya tinggi dan gaduh.
Muslim
Maka datanglah Umar, lalu berkata, "Tahukah kamu berdua, di manakah kamu berada?" Kemudian Umar RA bertanya pula, "Dari manakah kamu berdua?" Keduanya menjawab, "Dari Taif" Maka Umar berkata, "Seandainya kamu berdua dari kalangan penduduk Madinah, tentulah aku pukuli kamu berdua sampai kesakitan."
Muslim
Para ulama mengatakan bahwa makruh meninggikan suara di hadapan kuburan Nabi SAW sebagaimana hal tersebut dimakruhkan saat beliau SAW masih hidup.
Muslim
Karena sesungguhnya beliau SAW tetap dimuliakan, baik semasa hidupnya maupun sesudah wafatnya untuk selamanya.
Muslim
Kemudian Allah SWT melarang orang-orang mukmin berbicara kepadanya dengan suara yang keras sebagaimana seseorang berbicara dengan temannya, bahkan dia harus bersikap tenang, menghormati, dan memuliakannya saat berbicara kepada beliau SAW dan tentunya dengan suara yang tidak keras.
Muslim
Karena itulah Allah SWT menyebutkan dalam firman-Nya:
{وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ}
{#dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain.#} (Al-Hujurat, [49:2])
Muslim
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain:
{لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا}
{#Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain).#} (An-Nur, [24:63])
Muslim
Adapun firman Allah SWT:
{اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ}
{#supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.#} (Al-Hujurat, [49:2])
Muslim
Yakni sesungguhnya Kami melarang kalian meninggikan suara di hadapan Nabi SAW lebih dari suaranya tiada lain karena dikhawatirkan beliau akan marah, yang karenanya Allah pun marah disebabkan kemarahannya.
Muslim
Dan karenanya maka dihapuslah amal baik orang yang membuatnya marah, sedangkan dia tidak menyadarinya. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis sahih yang menyebutkan:
{*اِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللّٰهِ لَا يُلْقِيْ لَهَا بَالًا يَرْفَعُهٗ اللّٰهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَاِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللّٰهِ لَا يُلْقِيْ لَهَا بَالًا يَهْوِيْ بِهَا فِيْ
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.